JAKARTA — Seorang anak bernama Don ingin didengar, dilihat, dan dicintai. Kisah sederhana dalam film animasi Jumbo itu lahir dari imajinasi seorang kreator Indonesia, tetapi emosinya bisa dirasakan siapa saja di belahan dunia mana saja tanpa peduli batas negara dan sekat bahasa.
Bagi sutradara Ryan Adriandhy, di situlah kekuatan sebuah cerita. Ia tidak harus kehilangan identitas lokal agar dapat diterima dunia. Justru ketika sebuah karya berangkat dari pengalaman yang spesifik, ia bisa menemukan sesuatu yang paling universal dalam diri manusia.
“Di balik itu semua, Don, karakter utamanya, hanyalah seorang anak yang ingin dilihat, didengar, dan merasa dicintai. Dan saya rasa emosi itu tidak memerlukan penerjemahan (emotion does not need translation),” ujar Ryan dalam salah satu sesi World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Hotel Indonesia Kempinski, Jumat (23/10).
Ryan teringat film-film animasi Pixar yang ia sukai. Tokohnya bisa berupa semut, mainan, atau mobil balap. Namun, penonton tetap terhubung karena yang mereka saksikan bukan semata-mata kehidupan benda-benda itu, melainkan emosi yang akrab dengan pengalaman manusia.
Dalam Jumbo, arsitektur, kuliner, dan interaksi sosial yang lekat dengan Asia Tenggara menjadi bagian dari dunia cerita. Namun, kerinduan Don untuk dicintai tidak membutuhkan kamus untuk dipahami.
“Cerita yang dibuat di satu belahan dunia tiba-tiba bisa menemukan seseorang ribuan kilometer jauhnya yang berkata, ‘Oh, saya paham cerita itu. Saya tahu persis bagaimana rasanya.’ Dan saya pikir itu luar biasa,” kata Ryan.
Pengalaman Jumbo memperlihatkan peluang yang terbuka bagi industri kreatif Indonesia. Teknologi digital memudahkan distribusi film, penerjemahan melalui subtitle, dan pertemuan karya dengan penonton internasional.
Di forum yang sama, komika Pandji Pragiwaksono mengungkapkan bahwa pengalaman sosial dan politik Indonesia ternyata bisa menjadi bahan cerita yang menarik bagi penonton di negara lain. Pandji telah membawa pertunjukan stand-up comedy ke sejumlah kota di Eropa, antara lain Oslo, Berlin, Köln, Roma, dan Barcelona. Pengalaman tersebut memberinya pelajaran bahwa persoalan yang terdengar sangat Indonesia tidak selalu asing bagi orang di luar negeri.
“Ternyata Indonesia tuh menarik juga untuk diceritakan lewat stand-up comedy. Bahkan banyak sekali masalah sosial di Indonesia itu ternyata sama dengan yang ada di negara-negara lain, relate. Bahkan politik Indonesia itu menarik buat mereka, jadi peluangnya gede sekali,” ujar Pandji, Kamis (22/10).
Bagi Pandji, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pelaku kreatif Indonesia memiliki peluang untuk menembus pasar internasional. Namun, peluang itu akan sulit berkembang apabila industri pertunjukan di dalam negeri masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan model bisnis yang membebani penyelenggara.
Ia menyoroti sistem penyewaan gedung pertunjukan yang umumnya mengharuskan penyelenggara membayar biaya sewa di muka. Sementara itu, produksi masih menanggung berbagai pengeluaran, termasuk tata cahaya dan tata suara. Menurutnya, model bisnis berbasis bagi hasil seperti yang dikenal di pusat industri pertunjukan dunia dapat menjadi salah satu alternatif untuk dipertimbangkan.
“Saya rasa pemerintah bisa; antara menghadirkan lebih banyak gedung pertunjukan karena saya tahu persis kurang, atau mencoba untuk meng-influence perubahan pada model bisnis gedung pertunjukan di Indonesia,” kata Pandji.
Persoalan lain adalah pemusatan kesempatan di Jakarta. Komika dari Cirebon, Medan, Lampung, hingga Makassar, menurut Pandji, masih kerap merasa harus pindah ke ibu kota untuk membangun karier nasional. Padahal, kota-kota di luar Jakarta juga berpotensi memiliki penonton, komunitas, dan pasar pertunjukannya sendiri.
“Kita butuh lebih banyak hub stand-up comedy di banyak kota biar komika-komika ini bisa berkarier di kotanya masing-masing, atau istilahnya enggak mesti geser ke kota yang jauh seperti Jakarta untuk bisa hidup dari karyanya,” ujarnya.