Ubud, Bali (ANTARA) - ARMA Fest 2026 di Ubud, Bali mendorong pengembangan pariwisata budaya Bali agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman dengan melibatkan generasi muda dalam pelestarian seni dan tradisi.
Ketua Yayasan ARMA (Agung Rai Museum of Art) Anak Agung Yudi Sedana saat konferensi pers di Ubud, Kabupaten Gianyar, Sabtu, mengatakan ARMA Fest menjadi ruang pertemuan antara generasi lama dan generasi baru untuk melakukan rekonstruksi budaya Bali tanpa meninggalkan akar tradisi.
"ARMA Fest ini sekali lagi saya katakan adalah suatu jembatan antara yang lama dan yang baru, bagaimana memberikan ruang kepada generasi muda untuk melakukan suatu rekonstruksi budaya yang tetap menjaga akarnya sebagai sebuah akar budaya Bali," katanya.
Menurut dia, ARMA Fest juga menjadi wadah bagi seniman, budayawan, generasi muda, dan pelaku UMKM untuk berkolaborasi sehingga Arma dapat menjadi ruang bersama bagi berbagai kalangan.
Ia mengatakan keberadaan ARMA selama 30 tahun tidak terlepas dari dukungan seniman, budayawan, dan masyarakat yang bersama-sama menjaga keberlanjutan seni dan budaya Bali.
General Manager ARMA Museum and Resort Made Suhartana mengatakan ARMA Museum tidak hanya menjadi destinasi budaya, tetapi juga menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berdiskusi, berbagi pengetahuan, serta mengikuti kegiatan seni dan budaya.
"Keberadaan ARMA Museum sendiri adalah sebagai salah satu destinasi budaya. Itu yang kami kedepankan karena hampir setiap hari kami sediakan tempat dan kesempatan untuk pengunjung ke museum untuk melaksanakan cultural activities," katanya.
Ia mengatakan ARMA Fest merupakan salah satu implementasi visi dan misi ARMA Museum dengan melibatkan seniman dari Bali, luar Bali, hingga mancanegara.
Menurut Suhartana, kegiatan tersebut memberikan ruang bagi seluruh generasi untuk tampil dan belajar, termasuk melalui proses transfer pengetahuan dari seniman senior kepada generasi berikutnya.
"Kami tetap berusaha melestarikan, mengembangkan, dan tentunya membuka diri untuk seluruh lapisan masyarakat yang betul-betul tertarik terkait dengan seni dan budaya," ujarnya.
Ia berharap kegiatan ARMA Fest dapat mendorong pelaku pariwisata untuk semakin mengedepankan konsep pariwisata budaya di tengah perkembangan industri pariwisata yang semakin kompleks.
Suhartana mengatakan pengembangan pariwisata budaya perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan meningkatkan nilai dan kualitas destinasi, serta melibatkan sinergi antara pemerintah dan pihak swasta.
Sementara itu, Ketua Panitia ARMA Fest I Made Sutama mengatakan kegiatan tersebut menghadirkan ruang pertemuan antara seni, tradisi, komunitas, dan generasi masa kini.
Salah satu agenda utama ARMA Fest 2024 adalah lomba beleganjur ngarap se-Bali yang diikuti sembilan sekaa kelompok pemuda) dari sejumlah wilayah di Bali.
"Yang membedakan lomba kita dengan lomba beleganjur yang sering diadakan di berbagai tempat adalah adanya prosesi ngarap itu sendiri," katanya.
Selain pertunjukan seni tradisi, ARMA Fest 2024 juga menghadirkan pameran seni yang menampilkan karya-karya seniman Keliki.
Pameran tersebut telah dibuka pada 17 September dan berlangsung hingga 30 September 2024.
Sutama mengatakan rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk merayakan tradisi dan kreativitas Bali sekaligus menunjukkan bahwa tradisi dapat terus hidup melalui berbagai bentuk ekspresi dan keterlibatan generasi masa kini.
"ARMA Fest 2024 diharapkan menjadi ruang untuk merayakan tradisi dan kreativitas Bali sekaligus menunjukkan bahwa tradisi dapat terus hidup melalui berbagai bentuk ekspresi dan keterlibatan generasi hari ini," katanya.
Dalam pelaksanaannya, ARMA Fest 2024 melibatkan sekitar 895 seniman dan peserta dari berbagai kegiatan, mulai dari beleganjur hingga workshop.
Pewarta: Rolandus Nampu
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.