Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah mendorong pengembangan energi hijau tidak hanya sebagai bagian dari agenda transisi energi, tetapi juga sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Potensi energi baru terbarukan (EBT) yang mencapai lebih dari 3.000 gigawatt (GW) menjadi modal Indonesia membangun industri rendah karbon, mulai dari baterai kendaraan listrik, energi surya, hingga kawasan industri hijau.

Namun, pengembangan sektor tersebut membutuhkan ekosistem yang terintegrasi. Pemerintah, investor, pelaku industri, dan kawasan industri perlu bergerak bersama untuk menciptakan rantai nilai baru.

Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Elen Setiadi, mengatakan Indonesia membutuhkan sumber pertumbuhan baru untuk mencapai target ekonomi yang lebih tinggi.

“Pertumbuhan 8% itu kita butuh engine baru, kita butuh engine pertumbuhan baru,” ujar Elen dalam gelaran Accelerating Growth Through Clean Energy & Industrial Transformation di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Menurut Elen, sektor energi memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak ekonomi baru karena Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang sangat besar.

“Potensi energi terbarukan kita lebih dari 3.000 gigawatt, ini adalah potensi yang luar biasa,” katanya.

Elen menjelaskan, pengembangan energi hijau tidak berhenti pada pembangunan pembangkit, tetapi harus mampu menciptakan nilai tambah melalui industrialisasi.

“Energi ini tidak hanya kita lihat sebagai sumber listrik, tetapi bagaimana kita membangun ekosistem industri di belakangnya,” beber Elen.

Investasi Hijau Jadi Kunci Pengembangan Industri

Dari sisi investasi, pemerintah melihat energi hijau sebagai sektor yang membutuhkan dukungan regulasi dan kepastian usaha agar mampu menarik modal.

Direktur Deregulasi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Dendy Apriandi mengatakan pengembangan investasi hijau harus dibangun melalui kolaborasi pemerintah dan dunia usaha.

“Investasi hijau tidak hanya bicara energi, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem industri yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian,” ujar Dendy.

Menurutnya, arah investasi ke depan semakin mempertimbangkan faktor keberlanjutan, termasuk penggunaan energi bersih dalam proses produksi.

“Kita melihat investor global mulai memperhatikan aspek ESG dan kebutuhan energi rendah karbon dalam menentukan arah investasi,” katanya.

Baterai Jadi Penghubung Hilirisasi Mineral

Salah satu sektor strategis dalam transisi energi adalah pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif mengatakan Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun industri baterai karena didukung sumber daya mineral strategis.

“Kalau kita bicara baterai, kita tidak bisa melihat hanya dari sisi produk akhirnya. Kita harus membangun ekosistem dari hulu sampai hilir,” jabar Aditya.

Menurutnya, komponen seperti nikel, aluminium, dan tembaga menjadi bagian penting dalam rantai industri baterai.

“Kita memiliki sumber daya yang menjadi fondasi utama untuk membangun industri baterai, tetapi tantangannya adalah bagaimana menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” sambungnya.

Energi Surya Mulai Jadi Kebutuhan Industri

Selain baterai, kebutuhan energi bersih dari sektor industri juga mendorong pertumbuhan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Chief Executive Officer SUN Energy Emmanuel Jefferson mengatakan permintaan energi surya terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap energi rendah karbon.

“Energi terbarukan sekarang bukan lagi hanya pilihan, tetapi mulai menjadi kebutuhan bagi industri yang ingin menjaga daya saing,” ujar Emmanuel.

Ia menjelaskan SUN Energy terus mengembangkan proyek energi surya di kawasan Asia Pasifik.

“Kami memiliki portofolio sekitar 500 megawatt di Asia Pasifik, dan lebih dari 250 megawatt sudah terpasang serta beroperasi di Indonesia,” katanya.

Menurut Emmanuel, penggunaan energi surya dapat membantu industri memenuhi kebutuhan energi sekaligus mendukung target keberlanjutan perusahaan.

Perubahan kebutuhan industri juga mendorong kawasan industri beradaptasi dengan konsep rendah karbon.

Division Head of Smart-Eco Industrial Park Development, Kawasan Industri KIIC Haris Arianto mengatakan kawasan industri kini tidak hanya bersaing dari sisi lokasi dan infrastruktur, tetapi juga keberlanjutan.

“Kawasan industri ke depan harus mampu menyediakan ekosistem yang mendukung kebutuhan investor, termasuk dari sisi energi bersih dan keberlanjutan,” ujar Haris.

Menurutnya, konsep smart eco industrial park menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan daya saing kawasan industri Indonesia.

“Kami melihat investor semakin mempertimbangkan bagaimana kawasan industri dapat mendukung operasional yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” katanya.

Tantangan Mengubah Potensi Menjadi Nilai 

Meski memiliki peluang besar, pengembangan energi hijau masih menghadapi tantangan. Mulai dari kebutuhan investasi, teknologi, hingga kemampuan industri domestik masuk lebih dalam ke rantai nilai global.

Direktur Kolaborasi Internasional Indef Imaduddin Abdullah mengatakan Indonesia perlu memastikan transisi energi mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas.

“Yang menjadi tantangan adalah bagaimana potensi besar tersebut dapat diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan nilai tambah,” ujar Imaduddin.

Baca Juga: Kemenperin Buka Penghargaan Industri Hijau 2026, Tiga Kategori Disiapkan

Baca Juga: Saham TBS Dapat Label Hijau Transisi, Target Netral Karbon 2030

Menurutnya, keberhasilan transisi energi tidak hanya diukur dari kapasitas energi bersih yang dibangun, tetapi juga dari kemampuan menciptakan industri domestik yang kompetitif.

“Indonesia perlu memastikan bahwa transformasi energi ini tidak hanya menjadi perubahan sumber energi, tetapi juga menjadi transformasi ekonomi,” katanya.

Membangun Ekosistem Energi Masa Depan

Pengembangan energi hijau Indonesia kini bergerak menuju pembentukan ekosistem yang menghubungkan energi, industri, investasi, dan teknologi.

Dengan potensi EBT yang besar serta dukungan hilirisasi mineral, Indonesia memiliki peluang membangun industri rendah karbon yang memberikan nilai tambah ekonomi.

Namun, keberhasilan agenda tersebut akan bergantung pada kemampuan pemerintah dan pelaku usaha menjaga keseimbangan antara percepatan investasi, daya saing industri, dan keberlanjutan lingkungan.