Ekuador menetapkan status darurat nasional menyusul ancaman fenomena iklim El Nino yang diperkirakan dapat menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah.

HUT RMOL news

Keputusan tersebut diumumkan Kementerian Manajemen Risiko Ekuador pada Sabtu waktu setempat, 29 Agustus 2026.

"Kementerian menyatakan siaga merah di seluruh negeri sebagai respons terhadap fenomena El Nino," lapor Kementerian.

Pemberlakuan siaga merah mengaktifkan komite-komite darurat yang bertugas mengoordinasikan berbagai langkah pencegahan, termasuk persiapan evakuasi apabila kondisi memburuk.

Ekuador juga bersiap menghadapi ancaman kekeringan serta kebakaran hutan, khususnya di kawasan Amazon yang berada di bagian timur negara tersebut.

El Nino ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah Pasifik ekuator bagian tengah dan timur. Fenomena tersebut dapat mengubah pola angin, tekanan udara, serta curah hujan, sekaligus mengganggu aktivitas perikanan dan migrasi burung.

Dampak El Nino tahun ini telah mulai dirasakan di sejumlah kawasan. Amerika Tengah saat ini menghadapi kekeringan parah, sementara Indonesia juga menghadapi peningkatan risiko kebakaran hutan akibat kondisi cuaca yang diperburuk fenomena tersebut.

Para ilmuwan memperkirakan El Nino akan mencapai puncaknya pada akhir tahun, bahkan diprediksi dapat berkontribusi terhadap rekor suhu panas global pada 2027, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak perubahan pola cuaca di berbagai belahan dunia.

Sebelum Ekuador, Panama, Honduras, dan El Salvador telah lebih dulu menetapkan status darurat akibat El Nino.

Sementara Peru memberlakukan status darurat di sepertiga wilayah kotanya karena memperingatkan ancaman panas ekstrem dan hujan deras yang berpotensi mengganggu ketersediaan pangan masyarakat.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.