Warta Ekonomi, Jakarta -

Joko Widodo dinilai memiliki potensi memberikan tambahan dukungan bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), tetapi pengaruh tersebut belum otomatis berubah menjadi suara. Temuan Parameter Politik Indonesia menunjukkan sekitar 13% responden yang mengetahui aktivitas politik Jokowi untuk membesarkan PSI menyatakan tertarik bergabung dengan partai tersebut.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan angka tersebut memperlihatkan adanya potensi yang muncul setelah masyarakat mengetahui aktivitas Jokowi bersama PSI. Namun, ia mengingatkan potensi ketertarikan tidak sama dengan dukungan yang sudah pasti.

"Dari masyarakat yang menyatakan tahu kalau Jokowi itu blusukan dan bekerja untuk PSI, kira-kira begitu, ada sekitar kurang lebih 13,0% yang menyatakan tertarik untuk bergabung dengan PSI," ujar Adi dalam pemaparan hasil survei di Kanal YouTube Parameter Politik Indonesia, dikutip Sabtu (5/9/2026).

Menurut Adi, faktor Jokowi menjadi salah satu hal yang dapat memunculkan ketertarikan terhadap PSI. Meski demikian, partai tersebut tetap harus melakukan kerja politik untuk mengubah potensi tersebut menjadi dukungan yang benar-benar terealisasi.

"Artinya apa? Dari 37% masyarakat yang tahu kalau Jokowi bekerja untuk PSI ada sekitar 13% yang berpotensi memilih dan kemudian bergabung dengan PSI. Intinya ada potensi," kata Adi.

Dengan kata lain, keberadaan Jokowi dapat menjadi modal politik bagi PSI, tetapi bukan jaminan elektoral. Hasil akhir tetap bergantung pada kemampuan PSI mengelola ketertarikan tersebut melalui aktivitas dan strategi politik berikutnya.

Adi bahkan secara khusus mengingatkan bahwa angka 13% tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai jumlah pemilih PSI. Menurutnya, responden yang menyatakan tertarik masih berada pada tahap potensi dan belum tentu benar-benar bergabung atau memberikan suara kepada PSI.

"Jadi kalimat potensi tertarik bergabung dengan PSI itu memang jumlahnya besar karena faktor Jokowi, tapi ingat namanya potensi itu ya bisa menjadi bagian dari PSI atau tidak menjadi bagian dari PSI. Sangat tergantung dengan kerja-kerja politik yang akan dilakukan oleh PSI di masa-masa yang akan datang," terang Adi.

Temuan tersebut menjadi penting karena tingkat pengetahuan publik mengenai aktivitas Jokowi untuk PSI sendiri masih terbatas. Parameter Politik Indonesia mencatat hanya 37,1% responden yang mengetahui Jokowi melakukan safari politik untuk membesarkan PSI, sementara 62,9% lainnya menyatakan tidak mengetahui.

Artinya, angka 13% tersebut berasal dari kelompok masyarakat yang sebelumnya menyatakan mengetahui aktivitas Jokowi untuk PSI. Karena itu, angka tersebut tidak bisa dibaca sebagai 13% dari seluruh 1.200 responden survei.

Di antara responden yang mengetahui aktivitas tersebut, sebanyak 34,8% menyatakan tidak tertarik memilih PSI. Sebanyak 28,1% menjawab biasa saja, sedangkan 24,2% lainnya tidak memberikan jawaban.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa kehadiran Jokowi memang dapat menciptakan ketertarikan pada sebagian responden, tetapi respons publik terhadap PSI tetap beragam. Ada yang melihatnya sebagai alasan untuk tertarik, sementara sebagian lainnya belum menunjukkan minat memilih partai tersebut.

Temuan Parameter Politik Indonesia juga memperlihatkan bahwa faktor seorang tokoh tidak berdiri sendiri dalam menentukan pilihan politik masyarakat. Kerja politik partai, program, komunikasi kepada pemilih, serta kemampuan mempertahankan ketertarikan publik tetap menjadi faktor yang dapat menentukan apakah potensi tersebut berubah menjadi dukungan.

Jokowi sendiri menjadi salah satu figur yang dikaitkan dengan perkembangan politik PSI setelah masa kepresidenannya berakhir. Aktivitasnya dalam sejumlah agenda PSI kemudian menjadi perhatian dan turut masuk dalam pengukuran persepsi masyarakat melalui survei tersebut.

Salah satu konteks aktivitas tersebut adalah kehadiran Jokowi dalam agenda PSI di Bandar Lampung pada Juni 2026. Namun, survei Parameter Politik Indonesia tidak menyimpulkan bahwa aktivitas tersebut secara langsung menyebabkan kenaikan dukungan PSI.

Baca Juga: Strategi Politik Cerdik Jokowi: Isu Percepatan Pemilu 2029 Dibocorkan

Survei dilakukan terhadap warga negara Indonesia berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah dengan jumlah 1.200 responden. Responden tersebar secara proporsional di 38 provinsi, 116 kabupaten/kota, 120 kecamatan, dan 120 desa atau kelurahan.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh surveyor mahasiswa pada 20 Juli hingga 3 Agustus 2026. Survei memiliki margin of error 2,8% pada tingkat kepercayaan 95%.

Bagi PSI, temuan tersebut memberikan gambaran sekaligus pekerjaan rumah. Faktor Jokowi berpotensi membuka ruang dukungan baru, tetapi partai tetap harus membuktikan bahwa ketertarikan tersebut dapat dikonversi menjadi pilihan politik dalam pemilu.