Kondisi mental Duterte menjadi salah satu persoalan yang harus diputuskan hakim menjelang dimulainya persidangan utama.

Pada Januari 2026, majelis praperadilan ICC menyatakan Duterte mampu mengikuti proses praperadilan setelah mempertimbangkan hasil pemeriksaan oleh panel tiga ahli medis independen. Namun, keputusan tersebut hanya berlaku untuk tahap praperadilan.

Setelah perkara memasuki tahap persidangan, majelis hakim ICC yang menangani persidangan Duterte pada Juni memerintahkan pemeriksaan medis baru untuk menentukan apakah ia mampu menjalani persidangan utama. Tiga ahli ditunjuk untuk menilai kondisi Duterte serta kemampuannya menggunakan hak-haknya selama proses persidangan.

Panel tersebut telah menyerahkan laporan hasil pemeriksaan. Isi lengkap laporan itu belum dibuka kepada publik. Tim pembela dan jaksa ICC kemudian menyampaikan tanggapan masing-masing terhadap hasil pemeriksaan tersebut dalam dokumen tertanggal 14 September.

Mengutip CNA, jaksa ICC meminta hakim menyatakan Duterte layak menjalani persidangan. Jaksa mengatakan bahwa berdasarkan temuan para ahli yang disebut bulat, Duterte masih mampu menggunakan hak prosedural dan hak atas peradilan yang adil secara bermakna sehingga dinilai layak diadili.

Tim pembela mengambil posisi berbeda. Mereka menyatakan Duterte mengalami gangguan daya ingat yang signifikan sehingga kesulitan menyimpan informasi baru dan mengingat kembali sejumlah hal.

Pengacara utama Duterte, Peter Haynes, mengatakan kondisi tersebut membuat kliennya kesulitan terlibat secara bermakna dalam persiapan perkara dan memberikan arahan kepada tim hukum. Menurut Haynes, Duterte bahkan terkadang tidak mengingat nama pengacara utamanya.

Tim pembela mengutip hasil pemeriksaan yang menurut mereka menunjukkan masalah pada daya ingat dan orientasi Duterte. Ia disebut mengira saat ini masih tahun 2007 atau 2008, menyebut usianya 84 atau 85 tahun, serta tidak dapat mengingat nama presiden Amerika Serikat saat ini.

Menurut Haynes, kondisi tersebut membuat tim hukum kesulitan mempersiapkan pembelaan karena mereka tidak dapat sepenuhnya mengandalkan informasi yang disampaikan Duterte. Gangguan daya ingat itu dinilai dapat memengaruhi kemampuannya memberikan kesaksian untuk membela diri di persidangan.

Tim pembela turut mempersoalkan laporan para ahli dan menyebutnya belum lengkap serta belum memadai. Mereka juga meminta pemeriksaan medis tambahan.

Menurut pengajuan tim pembela, para ahli menyebut Duterte mungkin tidak mengerahkan kemampuannya sepenuhnya saat menjalani tes sehingga hasil pemeriksaan sulit ditafsirkan. Namun, para ahli belum dapat memastikan apakah hasil tersebut berkaitan dengan upaya berpura-pura atau melebih-lebihkan gangguan, kurangnya motivasi, atau ketidakmampuan yang benar-benar disebabkan oleh kondisi neurologis.

Berdasarkan aturan ICC, persidangan tidak dapat dilanjutkan apabila terdakwa tidak mampu memahami dakwaan yang dihadapinya atau tidak dapat terlibat secara efektif dalam pembelaannya. Majelis hakim yang menangani persidangan Duterte hingga kini belum mengambil keputusan akhir mengenai apakah ia layak diadili.

Dalam keputusan yang dirilis seusai sidang pada Rabu, majelis tiga hakim memutuskan pula Duterte tetap ditahan. Hakim menilai terdapat risiko Duterte melarikan diri dan/atau menghambat atau membahayakan proses pengadilan. Majelis menyebut terbukanya identitas para saksi dan isi kesaksian mereka meningkatkan kemampuan Duterte untuk memengaruhi saksi, baik secara langsung maupun melalui keluarga atau pendukungnya di Filipina.