Para perempuan dan anak-anak mereka ini termasuk di antara pengungsi Rohingya yang diusir dari rumah mereka di Malaysia.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Para perempuan dan anak-anak mereka ini termasuk di antara pengungsi Rohingya yang diusir dari rumah mereka di Malaysia.
    • Penulis, Kelly Ng
    • Peranan, Jurnalis BBC di Singapura
  • Telah diterbitkan 6 jam yang lalu

  • Waktu membaca: 9 menit

Belum lama ini, mantan Perdana Menteri Malaysia menyerukan agar negaranya melindungi warga Muslim Rohingya—kelompok minoritas tanpa kewarganegaraan yang selama puluhan tahun meninggalkan Myanmar, untuk menyelamatkan diri dari kekerasan dan diskriminasi.

"Kita harus membela mereka, bukan hanya karena mereka memiliki keyakinan yang sama, tetapi karena mereka adalah manusia dan hidup mereka berharga," kata Najib Razak pada 2017.

Namun, sembilan tahun kemudian, gelombang penolakan terhadap warga Rohingya justru semakin kuat dan menyebar di Malaysia.

"Pergi ke sekolah sekarang sudah menjadi sesuatu yang berbahaya," kata Irhan, seorang pengungsi Rohingya yang mendirikan sekolah di wilayah utara Malaysia untuk anak-anak dari komunitasnya yang berusia 6 hingga 15 tahun. Nama Irhan telah diubah untuk melindungi identitasnya.

Anak-anak Rohingya tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah negeri Malaysia. Karena itu, mereka belajar di pusat pendidikan informal yang dikelola komunitas dan tidak memiliki izin resmi.

Namun, tempat-tempat belajar tersebut kini semakin rentan menjadi sasaran.

Bulan lalu, sekolah yang didirikan Irhan digerebek. Delapan polisi berseragam masuk ke sekolah, memotret para siswa dan memerintahkan sebagian dari mereka untuk pulang.

"Anak-anak ini hanya datang untuk belajar. Sekarang keluarga mereka ketakutan," ujarnya.

Anak-anak Rohingya tidak dapat mengenyam pendidikan di sekolah reguler di Malaysia dan sebagai gantinya pergi ke pusat-pusat yang dikelola oleh komunitas atau organisasi, seperti yang satu ini di Penang.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Anak-anak Rohingya tidak dapat mengenyam pendidikan di sekolah reguler di Malaysia dan sebagai gantinya pergi ke pusat-pusat yang dikelola oleh komunitas atau organisasi, seperti yang satu ini di Penang.

Sebuah sekolah di Selangor, Malaysia bagian barat, bahkan sempat menghentikan kegiatan belajar selama sebulan. Sekolah tersebut kembali dibuka pada akhir Juli dengan sejumlah aturan baru.

Para siswa dilarang mengenakan seragam sekolah saat datang belajar. Setelah kelas selesai, mereka juga harus langsung pulang dan tidak diperbolehkan berlama-lama atau berkumpul dalam kelompok di sekitar sekolah.

"Kami berusaha tidak terlalu mencolok demi melindungi para siswa agar tidak menjadi sasaran serangan," cetus Farooq, seorang guru Rohingya.

Penertiban terhadap warga Rohingya berlangsung secara serampangan dan kerap dipicu oleh sentimen publik. Ketidakpastian dan rasa takut juga membuat sejumlah sekolah terpaksa tutup dalam beberapa bulan terakhir.

Di beberapa wilayah Malaysia, warga Rohingya bahkan diusir dari desa-desa yang telah mereka tinggali selama bertahun-tahun. Sejumlah warga setempat mengatakan kepada media Malaysia bahwa membiarkan warga Rohingya tetap tinggal dapat menimbulkan "masalah sosial".

Setelah diusir dari sebuah desa nelayan di dekat Penang, sekitar 120 pengungsi Rohingya mencari perlindungan di luar kantor badan pengungsi PBB di Kuala Lumpur. Mereka kemudian ditahan sementara oleh pihak berwenang. Lebih dari separuhnya adalah anak-anak.

Rangkaian kejadian tersebut membuat komunitas Rohingya—yang selama ini sudah merasa terdesak dan terancam—kembali hidup dalam ketakutan dan harus selalu waspada.

"Pada tahun-tahun awal, warga Malaysia adalah teman kami. Mereka peduli terhadap anak-anak kami. Tapi sekarang semuanya sudah berubah," kata Irhan.

"Saya akan pergi jika bisa. Tapi saya harus pergi ke mana? Kami tidak diinginkan di mana pun."

Melarikan diri dari Myanmar

Badan pengungsi PBB memperkirakan lebih dari 126.000 warga Rohingya telah menetap di Malaysia. Angka ini menjadikan Malaysia sebagai negara yang menampung pengungsi Rohingya terbanyak kedua setelah Bangladesh.

Tapi, sejumlah kelompok hak asasi manusia meyakini jumlah sebenarnya jauh lebih besar.

Muslim Rohingya tidak diakui sebagai warga negara di negara asal mereka, Myanmar, yang mayoritas penduduknya beragama Buddha.

Meskipun warga Rohingya telah menelusuri akar sejarah mereka hingga berabad-abad di wilayah yang kini dikenal sebagai negara bagian Rakhine, pemerintah Myanmar dari waktu ke waktu menyebut mereka sebagai imigran ilegal.

Penindakan brutal tahun 2017 memaksa lebih dari satu juta Rohingya untuk mengungsi, seperti orang-orang ini yang tiba di Malaysia utara pada tahun berikutnya.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Penindakan brutal tahun 2017 memaksa lebih dari satu juta Rohingya untuk mengungsi, seperti orang-orang ini yang tiba di Malaysia utara pada tahun berikutnya.

Ketegangan antara warga Rohingya dan penduduk lokal yang beragama Buddha berulang kali meletus menjadi kekerasan.

Puluhan ribu warga Rohingya terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sebagian ditampung di kamp-kamp pengungsian di dalam Myanmar, sementara lainnya melarikan diri ke negara-negara tetangga.

Namun, gelombang pengungsian terbesar terjadi pada Agustus 2017, setelah militer Myanmar melancarkan operasi penindakan secara brutal. Tentara Myanmar membantai ribuan warga Rohingya, memperkosa perempuan Rohingya, dan membakar desa-desa tempat mereka tinggal.

PBB menyebut tindakan tersebut sebagai "pembersihan etnis yang bisa dijadikan contoh di buku teks". Pemerintahan mantan Presiden Amerika Serikat Joe Biden juga menyimpulkan bahwa tindakan itu merupakan genosida.

Myanmar kini menghadapi perkara genosida penting di Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ). Dalam persidangan tersebut, pemimpin Myanmar yang telah digulingkan sekaligus peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, pernah memberikan kesaksian.

Sebagai pemimpin Myanmar saat itu, Suu Kyi mendapat kritik keras atas respons pemerintahannya terhadap pembunuhan tersebut. Pemerintahannya dinilai antara lain mengecilkan skala kekerasan yang terjadi atau menyatakan bahwa tingkat keparahan kekerasan telah dibesar-besarkan.

Pada 2017, lebih dari satu juta warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Hanya saja, kondisi kamp pengungsian yang penuh sesak, kekerasan, serta bantuan kemanusiaan yang semakin berkurang membuat banyak dari mereka mencoba melakukan perjalanan berbahaya melintasi Laut Andaman menuju Malaysia.

Perjalanan tersebut dilakukan menggunakan kapal-kapal nelayan yang sempit dan rapuh. Ribuan orang dilaporkan meninggal dalam perjalanan.

Najib Razak, mantan perdana menteri Malaysia, berpidato di hadapan para pengungsi di sebuah stadion di Kuala Lumpur pada tahun 2016 sambil mengenakan syal bertuliskan "Selamatkan Rohingya".

Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Najib Razak, mantan perdana menteri Malaysia, berpidato di hadapan para pengungsi di sebuah stadion di Kuala Lumpur pada tahun 2016 sambil mengenakan syal bertuliskan "Selamatkan Rohingya".

Seiring banyaknya warga Rohingya yang tiba di Malaysia, sambutan hangat negara itu terhadap mereka perlahan memudar.

Malaysia tidak pernah secara resmi mengakui pencari suaka. Artinya, para pengungsi tidak memiliki hak atas tempat tinggal, pekerjaan, maupun pendidikan.

Meski demikian, banyak warga Rohingya tetap memandang Malaysia—negara dengan mayoritas penduduk Muslim—sebagai tempat yang aman sekaligus menawarkan peluang untuk memperbaiki kehidupan secara ekonomi.

Setidaknya, begitulah kondisi yang berlangsung selama bertahun-tahun, ketika para pemimpin Malaysia berulang kali menyerukan kepada masyarakat dan negara-negara Muslim lainnya untuk melindungi warga Rohingya.

Bertahan hidup di Malaysia

Selama pandemi, warga Rohingya dituduh menyebarkan virus dan dianggap bersaing dengan masyarakat lokal dalam mendapatkan pekerjaan.

Petisi yang menyerukan agar mereka dideportasi membanjiri media sosial. Di sisi lain, pihak berwenang menolak ratusan pencari suaka Rohingya yang telah terombang-ambing di laut selama berminggu-minggu.

Tahun ini, gelombang kebencian terhadap warga Rohingya kembali muncul dengan intensitas yang lebih besar, dan media sosial kembali menjadi salah satu pemicunya.

Pada Mei, muncul sejumlah unggahan di media sosial yang menuduh para pengungsi Rohingya tidak membuang atau mengelola dengan baik hewan kurban setelah perayaan Idul Adha. Unggahan tersebut dengan cepat menjadi viral.

Bulan lalu, pihak berwenang menahan sementara 120 pengungsi Rohingya yang mencari perlindungan di luar kantor badan pengungsi PBB di Kuala Lumpur.

Sumber gambar, Rohingya Rights Response

Keterangan gambar, Bulan lalu, pihak berwenang menahan sementara 120 pengungsi Rohingya yang mencari perlindungan di luar kantor badan pengungsi PBB di Kuala Lumpur.

Dari situ, muncul berbagai tudingan yang tidak berdasar dan dibesar-besarkan. Warga Rohingya dituduh menuntut kewarganegaraan secara otomatis, berupaya mendapatkan kekuasaan politik, hingga berusaha "mengambil alih" Malaysia.

Sebuah petisi daring yang mendesak pemerintah untuk "mengusir Rohingya dari Malaysia" bahkan mengumpulkan lebih dari 420.000 tanda tangan sebelum akhirnya dihapus setelah mendapat kecaman dari kelompok-kelompok hak asasi manusia.

Karim, seorang aktivis Rohingya, mengatakan keramahan warga Malaysia membuatnya "merasa aman" ketika pertama kali tiba di negara itu pada 2003.

"Hidup sebagai pengungsi memang berat. Saya kecewa karena selama bertahun-tahun hanya bisa bekerja di sektor konstruksi. Namun, saya menemukan bahwa warga Malaysia sangat ramah dan baik kepada kami. Itu yang membuat saya merasa aman," kata pria berusia 45 tahun yang kini tinggal di Penang tersebut.

"Tapi sekarang, hidup semakin sulit. Saya sering merasa takut untuk keluar rumah. Beberapa kali, ketika sedang dalam perjalanan, saya diteriaki, 'Mengapa kalian membuat kota kami menjadi berantakan? Mengapa kalian tidak pulang saja?'"

Menteri Luar Negeri Malaysia baru-baru ini mengatakan Myanmar bersedia memulangkan 5.000 pengungsi.

Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Menteri Luar Negeri Malaysia baru-baru ini mengatakan Myanmar bersedia memulangkan 5.000 pengungsi.

Irhan, yang tiba di Malaysia pada 2001 saat masih remaja sebagai bagian dari gelombang pencari suaka sebelumnya, merasakan hal yang sama.

Keduanya mengatakan sebagian besar warga Rohingya pada akhirnya ingin kembali ke Myanmar. Tetapi, saat ini mereka harus kembali ke negara yang masih dilanda perang saudara berdarah.

Negara bagian Rakhine, tempat asal mereka, mengalami kehancuran besar-besaran akibat pertempuran sengit antara rezim militer Myanmar dan Tentara Arakan.

Bagi warga Rohingya yang telah mengungsi, pulang ke kampung halaman juga berarti menghadapi risiko dipaksa masuk militer untuk bertempur membela junta yang sedang terdesak, atau menjadi sasaran Tentara Arakan.

Banyak warga Rohingya menggambarkan menghadapi permusuhan di Malaysia seiring dengan perubahan sikap.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Banyak warga Rohingya menggambarkan menghadapi permusuhan di Malaysia seiring dengan perubahan sikap.

PBB pekan ini merilis laporan dari misi pencari fakta independen yang mengungkap bahwa kondisi kelompok minoritas di Myanmar telah "jatuh ke titik terburuk yang baru".

Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, mengatakan pada Selasa warga Rohingya "mengalami penderitaan dan kekejaman di berbagai tingkatan dan di seluruh negeri, yang sungguh memilukan."

Sementara itu, Malaysia juga tidak lagi menjadi tempat perlindungan seperti yang selama ini mereka harapkan.

Sejumlah pihak menilai warga Rohingya kini menjadi kambing hitam yang mudah disalahkan atas meningkatnya biaya hidup. Sentimen negatif terhadap mereka semakin kuat karena Rohingya merupakan kelompok pencari suaka terbesar di Malaysia.

"Saya tidak mengatakan semua warga Rohingya adalah orang baik. Di setiap komunitas pasti ada orang baik dan ada pula yang berbuat buruk. Lalu, mengapa tindakan segelintir orang harus dijadikan alasan untuk memberi cap kepada seluruh komunitas?" tanya Farooq.

"Saya melarikan diri dari genosida di Myanmar dengan harapan bisa menemukan tempat yang aman. Namun sekarang, banyak warga Rohingya masih hidup dalam ketakutan hanya karena menjadi diri kami sendiri," tambahnya.

Dalam sebuah pidato kampanye pada Juli lalu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan Myanmar telah setuju menerima kembali 5.000 pengungsi Rohingya dari Malaysia, berkat "hubungan baik" antara kedua negara.

Anwar juga mengatakan bahwa dirinya telah memperingatkan warga Rohingya agar tidak mengganggu kehidupan masyarakat Malaysia.

"Ini negara kita. Malaysia adalah negara kita. Jangan biarkan pihak lain ikut campur," ujarnya.

Pernyataan tersebut mungkin menjadi salah satu tanda bahwa retorika anti-Rohingya telah semakin masuk ke arus utama di Malaysia.

Nurulhidayah Zahid, putri Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi, misalnya, membandingkan warga Rohingya dengan "monyet di hutan".

"Sudah cukup menggunakan sentimen agama dan kemanusiaan. Berbuat baiklah secukupnya. Jangan sampai monyet di hutan diberi makan, sementara anak-anak di rumah sendiri mati kelaparan," tulisnya dalam sebuah unggahan di Threads yang disertai foto warga Rohingya.

Baru-baru ini para pengungsi menghadapi retorika anti-Rohingya dari tokoh-tokoh publik.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Baru-baru ini para pengungsi menghadapi retorika anti-Rohingya dari tokoh-tokoh publik.

Mantan Wakil Kepala Kepolisian Malaysia, Ayob Khan Mydin Pitchay, menyamakan kedatangan warga Rohingya ke Malaysia dengan "kanker" yang membutuhkan penanganan segera.

BBC telah menghubungi kantor Perdana Menteri Malaysia dan Kementerian Luar Negeri Malaysia untuk meminta tanggapan terkait hal tersebut.

Sejumlah pihak meyakini sentimen negatif terhadap warga Rohingya akan semakin kuat menjelang pemilihan umum Malaysia. Pemilu berikutnya harus digelar paling lambat sebelum Februari 2028.

"[Pengungsi dan migran] sekali lagi dijadikan kambing hitam politik yang mudah disalahkan untuk mengalihkan perhatian dari persoalan domestik yang lebih mendalam," jelas Yap Lay Sheng, peneliti dari organisasi hak asasi manusia Fortify Rights.

Menurut Yap, pemerintah Malaysia selama bertahun-tahun berupaya menampilkan negaranya di mata dunia sebagai negara Muslim yang menjunjung nilai kemanusiaan dan kepedulian.

"Namun, perlakuan Malaysia terhadap warga Rohingya justru menunjukkan betapa kosongnya klaim tersebut," ujar Yap, yang berbasis di Malaysia.

Sementara itu, di sebuah gedung industri yang selama beberapa bulan terakhir digunakan sebagai ruang kelas, Irhan lebih mengkhawatirkan masa depan murid-muridnya daripada perubahan politik yang terjadi.

"Saya tidak tahu harus mencari bantuan ke mana atau siapa yang bisa membantu kami mendaftarkan tempat ini sebagai sekolah," katanya.

"Saya berharap masyarakat Malaysia bisa memahami bahwa anak-anak ini hanya ingin mendapatkan kesempatan untuk belajar."