Country Director PT SCG Indonesia Peramas Wajananawat, Duta Besar Singapura untuk Indonesia Kwok Fook Seng, Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno, Konsuler Komunikasi Kedutaan Besar Turki untuk Indonesia Burak Gunes dan Moderator Nadya Laras (dari kiri) dalam diskusi panel Beyond Borders: From Global Commitment to Local Impact saat saat acara Leaders Forum ESG Now Movement 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (19/10/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Duta Besar Singapura untuk Indonesia Kwok Fook Seng menilai investasi berkualitas dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan antara ambisi penanganan perubahan iklim dan kemampuan pendanaan negara maju maupun negara berkembang.

Menurut Kwok, transisi menuju ekonomi rendah emisi tidak dapat dilakukan hanya dengan menetapkan target ambisius. Pemerintah juga perlu memastikan investasi yang dijalankan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat tanpa mengorbankan ketahanan ekonomi.

“Proyek seperti apa yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat setempat tanpa mengorbankan tujuan yang ingin kita capai? Hal itu bukan mustahil, tetapi cukup sulit dilakukan,” kata Kwok diskusi panel di ESG NOW Leadership Forum & Awards Republika 2026, Senin (19/10/2026).

Ia menjelaskan, Perjanjian Paris yang disepakati pada 2015 memberikan kerangka kerja bagi seluruh negara untuk berkontribusi dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Berbeda dengan Protokol Kyoto yang menetapkan kewajiban pengurangan emisi bagi negara maju, Perjanjian Paris mendorong seluruh negara mengambil tanggung jawab bersama dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing.

Perjanjian Paris menetapkan tujuan membatasi kenaikan suhu rata-rata global jauh di bawah 2 derajat Celsius dibandingkan tingkat praindustri, sekaligus mengupayakan pembatasan kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celsius.

Kwok mengatakan, kesepakatan tersebut menjadi penting karena negara-negara memiliki tingkat pembangunan, kapasitas fiskal, dan kemampuan teknologi yang berbeda. Karena itu, pencapaian target iklim membutuhkan keseimbangan antara ambisi global dan kebutuhan pembangunan domestik.