AKURAT.CO Dua siswi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mendapat penanganan khusus dengan dirujuk ke rumah sakit di Jakarta.

Keduanya, Febiona dan Agnesia, diberangkatkan melalui Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, pada Sabtu (12/9/2026).

Rujukan ke Jakarta dilakukan setelah Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka meminta agar kedua korban memperoleh penanganan lebih lanjut.

Kondisi keduanya dinilai membutuhkan perhatian khusus, terutama karena dampak psikologis yang lebih berat dibandingkan korban lainnya.

Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, mengatakan, secara medis kedua siswi tersebut sebelumnya telah mendapat penanganan dari tim dokter di Sumut.

Namun, hasil pemantauan menunjukkan diperlukan langkah lanjutan untuk mendukung proses pemulihan mereka.

Bobby mengatakan keputusan membawa kedua korban ke Jakarta juga berkaitan dengan perhatian langsung dari Wakil Presiden terhadap perkembangan kondisi para korban.

"Jadi anak yang memang memiliki indikasi medis dan traumanya lebih tinggi daripada teman-temannya yang lain ini Pak Wapres minta langsung dibawa ke Jakarta dan penanganannya juga dari tim dokter kita juga ikut berangkat ke Jakarta. Ini atas perintah Bapak Wakil Presiden," kata Bobby.

Tim medis dari Sumatera Utara turut diterbangkan ke Jakarta untuk mendampingi proses perawatan.

Langkah ini dilakukan agar penanganan kedua siswi tetap terhubung dengan tim dokter yang sebelumnya mengikuti perkembangan kondisi mereka di Sumut.

Bobby menekankan pemulihan korban keracunan MBG tidak dapat hanya dilihat dari kondisi fisik. Tekanan psikologis yang muncul setelah kasus tersebut menjadi perhatian publik juga menjadi persoalan yang harus ditangani.

Ia mengungkapkan, sejumlah korban mengalami gangguan mental akibat komentar negatif dan perundungan di media sosial.

Kondisi tersebut dinilai dapat memperberat proses pemulihan anak-anak yang sebelumnya sudah mengalami dampak akibat keracunan.

"Anak-anak ini perlu dipulihkan bukan hanya kesehatan medisnya, tetapi juga mental dan psikisnya. Jadi saya minta tolong, jangan terlalu di-blow up. Ada yang terganggu mentalnya karena komentar-komentar dan cyberbullying. Karena disebut seolah-olah mencari perhatian, ini mengganggu mental anak-anak," ujar Bobby.

Menurut Bobby, tim medis juga telah mengingatkan para siswa untuk membatasi aktivitas di media sosial selama menjalani masa pemulihan.

Ia meminta masyarakat tidak menambah tekanan terhadap para korban dengan komentar maupun pemberitaan yang berlebihan.

"Demi penyembuhan anak-anak kita, jangan terlalu memberikan tekanan dari luar. Fokus kita adalah membantu mereka pulih. Bukan demi menutup-nutupi berita, tidak, tapi demi penyembuhan anak-anak," katanya.

Baca Juga: Partai Indonesia Terang Gelar Konsolidasi Nasional, Siapkan Mesin Politik Jelang Pemilu 2029