AKURAT.CO Industri hiburan Korea Selatan kembali mencuri perhatian dunia lewat pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam produksi drama.
Salah satu drama terbaru yang menjadi sorotan adalah Agent Kim Reactivated, yang memanfaatkan AI untuk menghasilkan adegan aksi dengan kualitas sinematik tinggi.
Inovasi ini menjadi bukti bahwa AI kini tidak hanya digunakan sebagai alat bantu, tetapi mulai menjadi bagian penting dalam proses produksi drama Korea modern.
Baca Juga: Cara Cek Desil Dinsos 2026 Secara Online, Ketahui Status Desil 1–10 untuk Penerima Bansos
Agent Kim Reactivated Jadi Pelopor Penggunaan AI di Drama Korea
Drama Korea Agent Kim Reactivated yang tayang di stasiun televisi SBS pada Juni 2026 disebut sebagai salah satu serial pertama yang mengintegrasikan teknologi AI secara ekstensif dalam proses produksinya.
Serial yang dibintangi aktor ternama So Ji-sub tersebut memanfaatkan AI untuk menciptakan narasi visual yang kompleks, terutama pada adegan aksi yang sebelumnya membutuhkan biaya produksi sangat besar.
Kehadiran teknologi ini menjadi langkah baru bagi industri hiburan Korea Selatan dalam menghadirkan tontonan berkualitas tinggi dengan proses yang lebih efisien.
Adegan Aksi Tiga Menit Dibuat Sepenuhnya Menggunakan AI
Salah satu bagian paling menarik dalam drama ini adalah sekuens aksi berdurasi sekitar tiga menit yang diproduksi hampir sepenuhnya menggunakan teknologi AI.
Adegan tersebut mengisahkan masa lalu karakter utama, Manajer Kim, saat berada di Korea Utara. Berbagai aksi berbahaya seperti ledakan gedung, kejar-kejaran mobil di jalanan bersalju, hingga tabrakan kendaraan berhasil divisualisasikan secara realistis.
Seluruh adegan itu dibuat menggunakan platform AI bernama AICRON, teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan spesialis efek visual asal Korea Selatan.
AI tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap efek visual, tetapi juga menjadi elemen penting dalam membangun cerita yang mendukung alur drama.
Teknologi AI Pangkas Biaya Produksi Hingga 60 Persen
SBS mengungkapkan bahwa penggunaan AI bertujuan mengatasi tingginya biaya produksi adegan aksi berskala internasional.
Dengan memanfaatkan teknologi AI, biaya produksi diklaim dapat ditekan hingga sekitar 60 persen dibandingkan metode syuting konvensional menggunakan live action dan efek visual tradisional.
Efisiensi tersebut memungkinkan rumah produksi mengalokasikan anggaran ke aspek lain, seperti pengembangan cerita, kualitas sinematografi, hingga penyempurnaan karakter.
Meski biaya produksi berkurang secara signifikan, kualitas visual tetap dipertahankan. Adegan baku tembak, pertarungan jarak dekat, serta pengambilan gambar close-up tetap tampil dengan detail tinggi sehingga sulit dibedakan dari hasil pengambilan gambar langsung.