Malang Raya (ANTARA) - Dosen Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ary Bakhtiar menyarankan para petani hortikultura, khususnya cabai untuk menyiapkan sistem irigasi drip (tetes) di tengah musim kemarau (kering).

Ary mengatakan salah satu mitigasi yang dapat dilakukan petani adalah menggunakan sistem irigasi drip atau irigasi tetes. Sistem ini memungkinkan pemberian air dan nutrisi langsung ke area perakaran tanaman secara lebih terukur.

“Cabai itu tipikalnya tidak suka terlalu banyak air, tetapi kalau kurang air juga akan mati. Karena itu, irigasi drip bisa menjadi salah satu solusi agar tanaman tetap mendapatkan air dan nutrisi,” kata Ary di Malang, Jawa Timur, Kamis.

Menurut Ary, penerapan irigasi drip membutuhkan investasi awal sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4 juta untuk pemasangan selang dan pipa. Meski membutuhkan tambahan biaya, sistem tersebut dapat membantu petani mengatur penggunaan air secara lebih efisien selama musim kering.

Ia mengaku ide irigasi drip tersebut muncul karena adanya ancaman gagal panen yang membayangi petani cabai di tengah kondisi cuaca kering yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia.

Keterbatasan air, katanya, membuat produktivitas tanaman menurun, bahkan berisiko menyebabkan tanaman gagal tumbuh dan berujung pada berkurangnya pasokan cabai di pasaran.

Pria yang juga petani cabai di Banyuwangi itu mengaku telah menerapkan sistem irigasi tersebut sebagai salah satu langkah mitigasi. Ia mendorong petani menyiapkan sumber air alternatif, seperti sumur dan pompanisasi, sehingga tidak hanya bergantung pada irigasi persawahan.

“Kalau sudah telanjur tanam, instalasi drip adalah solusinya agar tanaman tetap mendapat nutrisi air. Perawatannya juga tetap dilakukan, minimal dua hari sekali, seperti pemberian perangsang bunga, insektisida, dan nutrisi,” katanya.

Sementara itu, kenaikan harga cabai menurutnya berkaitan dengan berkurangnya produktivitas selama musim kering. Per 23 September, harga cabai rawit varietas ori kecil di tingkat petani berada di kisaran Rp58 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah besar sekitar Rp16 ribu per kilogram.

Ia menjelaskan harga di tingkat konsumen dapat lebih tinggi, karena adanya margin pada setiap rantai distribusi. Harga cabai rawit di tingkat konsumen diperkirakan berada pada kisaran Rp80–Rp90 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah besar sekitar Rp30–Rp42 ribu.

Bagi petani yang belum mulai menanam, Ary menyarankan untuk tidak terburu-buru melakukan budi daya. Menurutnya, kondisi cuaca perlu dipantau terlebih dahulu sambil mempersiapkan sumber air dan kebutuhan mitigasi lainnya.

“Mitigasi yang diperlukan petani hortikultura, khususnya cabai, adalah menyiapkan alternatif sumber air dari sumur. Kedua, bisa melakukan tunda tanam, mengingat intensitas panas saat ini, jika dipaksakan menanam bisa berujung pada tingginya angka gagal tanam,” ujarnya.

Ia menegaskan tunda tanam bukan berarti menghentikan budi daya, melainkan menunggu kondisi cuaca yang lebih mendukung. Petani dapat melakukan wait and see hingga hujan mulai turun, misalnya sekitar pertengahan November 2026.

“Kalau masih belum menanam, wait and see ulu terhadap cuaca. Sambil menunggu, petani bisa mempersiapkan mitigasinya, terutama sumber air dan sistem irigasi, sehingga ketika kondisi sudah memungkinkan tanaman bisa segera ditanam,” ujarnya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 22 September lalu dalam konferensi pers menyampaikan bahwa musim hujan tahun ini datang lebih lambat, dengan puncak musim hujan yang bervariasi di sejumlah wilayah Indonesia mulai Desember 2026 hingga Februari 2027.

Kondisi tersebut membuat petani hortikultura, khususnya cabai, perlu menyiapkan langkah mitigasi agar tanaman tetap bertahan di tengah keterbatasan air.

Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.