Dokter: Perempuan kenali perubahan payudara cegah terkena kanker
Selasa, 27 Oktober 2026 06:49 WIB
Dokter spesialis bedah onkologi dari Eka Hospital, dr. Sonar Soni Panigoro saat menjelaskan mengenai jenis kanker payudara kepada media dalam acara diskusi kesehatan di Serpong, Tangerang Selatan, Senin. ANTARA/irfan.
Tangerang (ANTARA) - Dokter spesialis bedah onkologi, dr. Sonar Soni Panigoro, mengimbau perempuan untuk mengenali perubahan pada payudara dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila menemukan tanda yang mencurigakan untuk mencegah kanker payudara.
Ia menjelaskan pengenalan gejala sejak awal dapat membantu tenaga medis menentukan diagnosis dan penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.
"Penanganan pada stadium dini juga membuka peluang lebih besar untuk memperoleh hasil pengobatan yang optimal," kata dr. Sonar Soni Panigoro dalam acara paparan kesehatan kepada media di Serpong, Tangerang Selatan, Senin.
Dokter dari Eka Hospital BSD Tangerang itu mengatakan gejala yang perlu diwaspadai antara lain munculnya benjolan di payudara atau ketiak, perubahan tekstur kulit seperti berlekuk atau tertarik, perubahan bentuk maupun arah puting, keluarnya cairan dari puting, serta munculnya ruam atau perubahan kulit yang tidak biasa.
Masyarakat juga, katanya, perlu memahami bahwa tidak semua benjolan merupakan kanker. Namun, setiap perubahan baru yang mencurigakan perlu diperiksa oleh tenaga medis agar penyebabnya dapat diketahui secara tepat.
"Selain mengenali gejala, pemeriksaan kesehatan secara berkala dan konsultasi dengan dokter merupakan bagian penting dari upaya deteksi dini. Pemeriksaan yang dibutuhkan dapat berbeda sesuai usia, riwayat kesehatan, serta tingkat risiko masing-masing individu," kata dr. Sonar.
Ia mengatakan upaya mengurangi risiko kanker payudara dapat dilakukan dengan menjaga berat badan yang sehat, rutin beraktivitas fisik, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menghindari rokok, serta membatasi atau menghindari alkohol.
Deteksi dini dan penerapan pola hidup sehat, kata dr Sonar, menjadi langkah penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan kanker payudara.
Kanker payudara juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak dapat diubah maupun yang berkaitan dengan gaya hidup. Faktor yang tidak dapat diubah meliputi pertambahan usia, riwayat keluarga, dan faktor genetik tertentu.
Sementara itu, sejumlah faktor yang dapat dimodifikasi berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari, seperti kurangnya aktivitas fisik, kelebihan berat badan, serta konsumsi alkohol.
"Riwayat reproduksi dan penggunaan terapi hormon tertentu juga dapat mempengaruhi risiko sehingga perlu dibicarakan dengan dokter sesuai kondisi masing-masing," kata dr Sonar.
Untuk riwayat kanker payudara dalam keluarga patut menjadi perhatian, terutama jika terdapat anggota keluarga yang mengalami kanker pada usia muda atau beberapa anggota keluarga dengan jenis kanker tertentu. Pada kondisi tersebut, konsultasi untuk penilaian risiko dan kemungkinan pemeriksaan genetik dapat dipertimbangkan.
"Meski demikian, seseorang tanpa riwayat keluarga kanker tetap dapat mengalami kanker payudara. Karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini perlu dilakukan oleh semua perempuan, bukan hanya mereka yang memiliki faktor risiko tinggi," ujarnya.
Untuk penanganan kanker payudara, lanjutnya, ditentukan berdasarkan stadium penyakit, karakteristik tumor, kondisi kesehatan pasien, serta hasil pemeriksaan jaringan dan penanda biologis yang relevan.
Pada kanker payudara stadium dini, pengobatan dapat ditujukan untuk menyembuhkan penyakit. Pilihannya dapat mencakup operasi, radioterapi, kemoterapi, terapi hormon, maupun terapi target, bergantung pada kebutuhan klinis pasien.
Sementara itu, kanker payudara yang telah menyebar ke organ lain umumnya membutuhkan terapi sistemik untuk mengendalikan penyakit, memperpanjang harapan hidup, serta menjaga kualitas hidup pasien.
Perawatan paliatif juga dapat diberikan untuk membantu mengendalikan nyeri dan gejala lain, tanpa berarti pasien harus menghentikan pengobatan antikanker.
"Pada kasus tertentu, pendekatan bedah rekonstruksi juga dapat dipertimbangkan setelah evaluasi tim medis," ujarnya.
Pewarta: Achmad Irfan
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026