Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP, FIHA menyampaikan kiat yang bisa dilakukan dalam mencegah masalah pada penyakit kardiovaskular, termasuk dengan mengenali faktor risiko yang bisa memicu serangan.
Menurut dia, lebih baik melakukan pencegahan daripada mengobati. Dalam hal ini, faktor risiko orang bisa terkena serangan jantung salah satunya disebabkan memiliki tensi yang tinggi.
“Jadi setiap masyarakat Indonesia harus menyadari, kalau misalnya nanti dia tensinya di atas 140/90, itu artinya tensinya tinggi, hipertensi. Harus diobatin,” kata Ade, kepada ANTARA saat ditemui usai acara ASMIHA ke-35 di Jakarta, Kamis.
Ade menyarankan dalam mencegah faktor risiko masalah jantung seperti hipertensi bisa dimulai dengan penerapan dari gaya hidup seperti mengurangi diet garam, tidak mengonsumsi ikan asinnya banyak.
Jika tekanan darah tetap tinggi, masyarakat disarankan segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan untuk diobati.
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI) itu juga mengatakan bahwa kolesterol tinggi hingga diabetes juga menjadi faktor risiko masalah pada jantung.
Ia menyarankan agar kadar kolesterol jahat (Low-Density Lipoprotein/LDL) harus di bawah 100, sementara pada penderita diabetes diobati supaya HbA1c atau hemoglobin A1c HbA1C harus di bawah dari 7 persen. Selain itu, merokok juga menjadi faktor risiko masalah pada jantung.
“Saya ada pasien umur 24 tahun serangan jantung. Kenapa? dia ngerokok tiga bungkus sehari. Jadi ada sumbatan total di pembuluh darah koronernya, padahal enggak ada penyempitan, menyebabkan serangan jantung. Itu faktor risiko yang harus ditangani,” tutur dia.
Lebih lanjut, Ade menekankan dengan mengobati faktor risiko, berpotensi menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah, terutama penyakit jantung koroner yang paling sering.
“Jadi satu faktor risiko (penyakit kardiovaskular) mungkin 20 persen, kalau kita tidak merokok, enggak hipertensi, enggak kolesterol tinggi, enggak diabetes, itu mengurangi 80 persen. Karena 20 persennya itu faktor keturunan, genetik,” ujar dia.
Sebelumnya, berdasarkan laman Kementerian Kesehatan yang dipublikasi pada 2025 bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia, di mana serangan jantung dan stroke menjadi penyebab utama kematian di Indonesia, merenggut hampir 800.000 nyawa setiap tahunnya.