Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Ade Meidian Ambari menyampaikan perlunya skrining atau pemeriksaan kesehatan bagi orang yang ingin berolahraga berat atau berolahraga dengan intensitas tinggi guna meminimalkan risiko kesehatan.
"Banyak kejadian orang-orang yang ternyata dia enggak di-skrining, olahraga, meninggal. Yang harusnya olahraga itu meningkatkan kebugaran, memperbaiki faktor resiko, tapi justru bahaya," kata dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP, FIH kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
"Semakin tinggi intensitas olahraga kita, lakukan skrining. Jadi kalau kamu enggak biasa olahraga tapi tiba-tiba lari full marathon, apa yang terjadi? Serangan jantung," katanya seusai acara Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association (ASMIHA).
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia itu mengatakan, orang yang tidak biasa berolahraga sebaiknya lebih dulu menjalani skrining kalau ingin berolahraga dengan intensitas sedang hingga berat seperti bermain sepak bola atau lari maraton.
Pemeriksaan kesehatan perlu dilakukan untuk mendeteksi faktor risiko, seperti riwayat sakit jantung dalam keluarga serta keluhan seperti nyeri dada dan jantung berdebar.
"Kita bisa EKG pasiennya, kita bisa evo, USG jantung atau periksa darah dan sebagainya untuk skrining. Kalau itu semua bagus, kita bisa mulai olahraga," kata dr. Ade.
Dokter Ade mengatakan, orang yang tidak biasa berolahraga sebaiknya melakukan latihan fisik secara secara bertahap sebelum mulai berolahraga dengan intensitas berat.
Ia mengemukakan bahwa orang yang tidak biasa berolahraga berpeluang mengalami masalah jantung kalau tiba-tiba langsung berolahraga dengan intensitas berat.
"Contohnya enggak pernah naik sepeda, terus ikut peletonan, itu bahaya, bisa menyebabkan serangan jantung," katanya.
"Kita tahu kalau atlet atau orang yang biasa olahraga, usianya di bawah 35 tahun paling sering itu gangguan irama jantung meninggalnya. Tapi, kalau di atas 35, paling sering karena serangan jantung sumbatan total di pembuluh darah koroner ini," ia menjelaskan.