DIY masukkan Pendidikan Khas Kejogjaan dalam tridarma perguruan tinggi

Kamis, 20 Agustus 2026 16:21 WIB

Image Print

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan pada peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan di UNY. Kamis (20/8/2026). ANTARA/HO-Humas Pemda DIY

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerja sama dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Yogyakarta memasukkan materi Pendidikan Khas Kejogjaan ke dalam kegiatan tridarma perguruan tinggi di wilayah provinsi tersebut.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta, Kamis, mengatakan Pendidikan Khas Kejogjaan adalah gagasan yang telah dirawat sejak lama oleh Dewan Pendidikan DIY, agar bagaimana kekhasan Yogyakarta dapat berbicara kepada sistem pendidikan nasional, bukan pengecualian, melainkan sebagai sumbangan.

"Hari ini, melalui kerja sama dengan LLDikti Wilayah V, gagasan itu menemukan jalannya yang lebih luas, masuk ke ruang kuliah, ruang penelitian, dan ruang pengabdian di seluruh perguruan tinggi di wilayah DIY," kata Sri Sultan dalam sambutan pada peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan di UNY.

Menurut Sultan, Pendidikan Khas Kejogjaan mengenal tiga ruang yang harus terus dipertemukan, yaitu Kraton menghadirkan horizon nilai, Kampus menghadirkan daya kritis berbasis pengetahuan, sedangkan Kampung, menghadirkan kenyataan hidup, tempat nilai dan ilmu memperoleh pembuktiannya.

"Ilmu modern akan semakin kuat, apabila memiliki kerendahan hati, untuk mendengarkan pengetahuan yang hidup di kampung, dalam cara masyarakat menjaga air, merawat tanah, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan," katanya.

Baca juga: Kemenekraf perkuat KPT Ekraf jadi penggerak hilirisasi

Gubernur DIY mengatakan, namun sebaliknya, pengetahuan lokal akan semakin relevan, apabila diberi ruang untuk diuji dan disambungkan dengan kebutuhan zaman, sehingga itulah makna berakar pada budaya, berwawasan Indonesia.

Yogyakarta, kata Sri Sultan tidak sedang menutup diri dalam lokalitas, namun Yogyakarta menawarkan kontribusi kepada kebijakan pendidikan tinggi nasional, tentang bagaimana nilai lokal dapat menjadi sumber inovasi, bukan sekadar pelengkap identitas daerah.

"Karena itulah, Pendidikan Khas Kejogjaan tidak bertentangan dengan kemajuan, namun justru memastikan, agar kemajuan ilmu dan teknologi tetap berpihak pada keselamatan bumi, keadilan, dan kesejahteraan manusia," katanya.

"Dalam watak satriya, kita mengenal sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh. Nilai-nilai itu, bukan hanya tuntunan bagi perseorangan. Perguruan tinggi pun memerlukan 'sawiji' dalam menjaga mutu, 'greget' untuk terus berinovasi, 'sengguh' untuk berdiri percaya diri di hadapan dunia, dan 'ora mingkuh' dalam memikul tanggung jawab sosialnya," katanya.

Lebih lanjut Sri Sultan mengajak agar menjadikan Pendidikan Khas Kejogjaan sebagai gerakan ilmu yang berjiwa budaya, gerakan yang menempatkan kebudayaan sebagai sumber nilai, ilmu sebagai alat pemuliaan, dan kesejahteraan manusia sebagai tujuan akhirnya.

Sebab, kata Gubernur DIY, ilmu yang tidak pernah pulang kepada nilai, cepat atau lambat, akan kehilangan arah untuk apa ia bekerja.

"Semoga dari Yogyakarta, lahir model pendidikan tinggi yang mampu menyatukan akar dan kemajuan, nalar dan rasa, kebijakan dan laku, ikhtiar ini menjadi sumbangsih DIY bagi Indonesia, pendidikan yang memerdekakan, membudayakan, dan menyejahterakan," katanya.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: DIY masukkan Pendidikan Khas Kejogjaan dalam tridarma perguruan tinggi

Pewarta : Hery Sidik
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026