Untuk tahun buku 2025 saja, BMRI membagikan dividen Rp44,47 triliun atau sekitar 79% dari laba bersih Rp56,3 triliun. Angka tersebut menjadi salah satu payout ratio tertinggi dalam sejarah perseroan.

Baca Juga: BMRI Guyur Dividen Rp6,16 Triliun, Analis: Jadi Magnet 'Income & Growth' yang Seimbang!

Yang membuat cerita dividen BMRI semakin menarik adalah pembagian dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp6,16 triliun. Dengan demikian, total dividen yang mengalir kepada pemegang saham BMRI sepanjang kalender 2026 mencapai sekitar Rp50,63 triliun.

Dividen Jumbo, Pertumbuhan Tetap Jalan

Menurut Wawan, besarnya dividen tidak lantas menunjukkan Bank Mandiri mengorbankan ruang ekspansinya.

Justru sebaliknya, pembagian dividen interim sebesar Rp66 per saham dinilai menjadi sinyal bahwa manajemen cukup percaya diri terhadap kekuatan fundamental perseroan.

“Payout BMRI termasuk yang paling ramah bagi pemegang saham di bank besar,” kata Wawan saat dihubungi Akurat.co, Rabu (9/9/2026).

Keyakinan tersebut memiliki dasar. Hingga Agustus 2026, secara bank only, kredit Bank Mandiri tumbuh 17,6% secara tahunan menjadi Rp1.592 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 17,6% menjadi Rp1.687 triliun.

Pada periode yang sama, laba bersih mencapai Rp37,5 triliun atau tumbuh 22,3% secara tahunan. Total aset juga meningkat 20,7% menjadi Rp2.358 triliun.

Artinya, Bank Mandiri berada dalam posisi yang relatif unik: mampu memberikan cash return besar kepada pemegang saham, tetapi pada saat yang sama masih mencatat pertumbuhan bisnis yang kuat.

Payout Ratio Jadi Daya Tarik Utama

Kebijakan tersebut penting bagi investor yang menjadikan dividend yield sebagai salah satu pertimbangan utama.

Pada 2025, BMRI membagikan Rp44,47 triliun dari laba bersih Rp56,3 triliun. Dengan payout ratio 79%, hanya sebagian kecil laba yang ditahan untuk memperkuat permodalan dan mendukung ekspansi.

Besarnya distribusi tersebut juga melanjutkan tren peningkatan imbal hasil kepada pemegang saham. Total dividend per share (DPS) untuk tahun buku 2025 mencapai sekitar Rp476,95 per saham, meningkat dari Rp466,18 per saham pada tahun sebelumnya.

Bagi investor, kondisi tersebut membuat BMRI tidak hanya menjadi cerita mengenai pertumbuhan harga saham. Ada cash return yang secara konsisten dikembalikan kepada pemegang saham.

Sinyal Kepercayaan Diri Manajemen

Pembagian dividen interim juga dapat dibaca sebagai sinyal kepercayaan diri manajemen terhadap kemampuan menghasilkan laba. Pasalnya, dividen interim dibagikan sebelum tutup buku berjalan.

Ketika perusahaan berani mengembalikan sebagian keuntungan kepada pemegang saham di tengah periode ekspansi, investor dapat melihat adanya keyakinan bahwa kapasitas permodalan dan likuiditas masih cukup untuk menopang pertumbuhan bisnis.

Kinerja hingga Agustus 2026 memperkuat narasi tersebut. Pertumbuhan laba 22,3% berada di atas pertumbuhan kredit dan DPK yang masing-masing sebesar 17,6%.

Dengan kata lain, BMRI bukan sekadar membagi dividen besar, tetapi juga masih menunjukkan kemampuan mencetak pertumbuhan laba yang solid.

BMRI Masih Menarik bagi Pemburu Dividen?

Wawan menilai BMRI masih menarik bagi investor yang mencari saham perbankan dengan kombinasi dividen jumbo dan ekspansi bisnis.

Valuasi saham juga dinilai belum terlalu mahal dibandingkan dengan konsensus analis. Kondisi ini membuat daya tarik BMRI tidak hanya berasal dari dividend yield, tetapi juga dari potensi pertumbuhan laba dan ekspansi kredit.

“Kalau cari saham bank yang memberi dividen jumbo sambil tetap ekspansi, BMRI masih menarik,” ujar Wawan.

Bagi investor, kombinasi tersebut menjadi semakin penting di tengah pasar yang menuntut emiten bukan hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memberikan imbal hasil nyata kepada pemegang saham.

Dividen BUMN: Dari Setoran Negara ke Daya Tarik Investor

Fenomena BMRI juga memperlihatkan perubahan penting dalam melihat dividen BUMN.

Selama ini, dividen BUMN sering dipandang terutama sebagai sumber penerimaan negara. Namun bagi investor pasar modal, besarnya dividen sekaligus menjadi indikator seberapa besar perusahaan mampu menciptakan shareholder value.

Bank Mandiri sendiri mencatat pembayaran dividen tahunan yang semakin besar. Laporan tahunan perseroan menunjukkan total dividen dalam 25 tahun terakhir telah mencapai sekitar Rp225 triliun.

Karena itu, ketika BUMN seperti BMRI mampu membagikan dividen puluhan triliun rupiah sekaligus mempertahankan pertumbuhan kredit dan laba, pesan yang diterima pasar menjadi lebih kuat.

BUMN bukan hanya mesin penerimaan negara, tetapi juga bisa menjadi mesin pencetak cash return bagi investor.

Dan untuk BMRI, kombinasi payout ratio tinggi, pertumbuhan laba dua digit, ekspansi kredit, serta dividen interim membuat saham bank pelat merah ini kembali berada di radar investor pemburu dividen.