Gorontalo (ANTARA) - Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo terus memantau balita bermasalah gizi di daerah itu.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo Syafiin S Napu di Kota Gorontalo, Selasa mengatakan pemantauan tersebut menjadi upaya mendeteksi dan menangani masalah gizi pada balita yang terus diperkuat melalui pemantauan pertumbuhan di posyandu.

Langkah ini menjadi bagian penting dalam memastikan setiap anak yang mengalami gangguan pertumbuhan, dapat segera diidentifikasi dan memperoleh intervensi yang sesuai.

Seperti yang dilakukan pihaknya bersama tim, dalam  kunjungan pemantauan balita bermasalah gizi di Posyandu Huangobotu, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango.

Pemantauan dilakukan dengan meninjau hasil pengukuran pertumbuhan balita, termasuk berat badan dan tinggi badan, serta memastikan balita yang teridentifikasi mengalami masalah gizi mendapatkan tindak lanjut dari kader dan tenaga kesehatan.

Salah satu balita yang menjadi perhatian dalam pemantauan tersebut adalah Putri, usia 19 bulan,  berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Kabila Bone.

Berdasarkan hasil pemantauan, status gizi berdasarkan berat badan menurut umur (BB/U) menunjukkan berat badan kurang, sementara tinggi badan menurut umur (TB/U) berada dalam kategori sangat pendek.

Syafiin mengatakan temuan seperti ini harus menjadi perhatian bersama, karena pengukuran di posyandu bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi merupakan pintu masuk untuk mendeteksi masalah pertumbuhan sedini mungkin.

“Ketika ditemukan balita dengan berat badan kurang atau tinggi badan sangat pendek, kita tidak boleh berhenti pada hasil pengukuran. Harus ada tindak lanjut untuk mengetahui penyebabnya, bagaimana asupan makanannya, apakah ada penyakit penyerta, serta bagaimana pola asuh dan kondisi lingkungan anak,” kata Syafiin.

Menurutnya penanganan masalah gizi memerlukan pemantauan yang berkesinambungan dan keterlibatan keluarga.

Kader Posyandu memiliki peran penting dalam memastikan balita yang teridentifikasi bermasalah, tidak kehilangan akses terhadap pelayanan kesehatan berikutnya.

“Kita ingin memastikan tidak ada balita bermasalah gizi yang terlewatkan. Posyandu, puskesmas, keluarga, pemerintah desa dan lintas sektor harus bergerak bersama agar setiap anak yang memerlukan intervensi dapat segera ditangani dan dipantau perkembangannya,” katanya pula.

Pemantauan balita bermasalah gizi mencakup pengukuran pertumbuhan secara berkala, pencatatan hasil pengukuran, edukasi kepada orang tua mengenai pemberian makanan bergizi dan seimbang, serta pemantauan kondisi kesehatan dan faktor lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan anak.

Balita yang memerlukan penanganan lebih lanjut dapat memperoleh pendampingan tenaga kesehatan dan bila diperlukan, dirujuk untuk mendapatkan pelayanan sesuai kondisi.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat memastikan intervensi diberikan secara cepat, tepat dan berkelanjutan.

Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.