Padangsidimpuan (ANTARA) - Mencermati pemberhentian Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan melalui kacamata humanisme, fokus pembahasan bergeser dari sekadar kalkulasi politik atau efisiensi anggaran ke martabat manusia, etika hubungan, dan kesejahteraan bersama. 

Yang oleh Carl Rogers bahwa inti pemikiran Humanisme tercermin dari perlakuan terhadap seseorang dengan penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard) dan empati. 

Dalam proses tumbuh atau belajar, manusia membutuhkan lingkungan yang mendukung, bebas dari paksaan atau ancaman. Biasa disebut Person centered.

Perspektif humanisme dapat membedah dinamika ini ke dalam beberapa poin utama:

1. Martabat dan Beban Emosional Individu

Dalam pandangan humanisme universal, seorang pejabat tinggi tetaplah seorang manusia yang memiliki emosi, batas kapasitas, dan hak atas perlakuan yang adil. 

Setelah dipecat Purbaya mengakui bahwa ia sempat susah tidur, karena saya manusia biasa, ucapnya, kenapa saya dipecat ya.?

• Efek Psikologis: 

Proses penggantian atau pemberhentian yang berlangsung mendadak kerap memberikan tekanan emosional dan ketidakpastian.

Kepasrahan Purbaya yang memilih untuk "pensiun dan fokus memancing" mencerminkan respons alamiah manusia dalam mencari ketenangan jiwa (peace of mind) setelah lepas dari tekanan jabatan publik yang begitu masif.

• Respek Terhadap Kontribusi:

Humanisme menekankan pentingnya menghargai pengabdian seseorang. 
Bagaimanapun singkatnya masa jabatan, proses transisi yang transparan dan elegan menjadi wujud penghormatan terhadap martabat personal sang pejabat.

2. Etika Komunikasi dan Kebijaksanaan Pemimpin
Dari sisi kepemimpinan berlandaskan humanisme etis, Felix Adler mengusung pandangan bahwa moralitas dan etika tidak harus bersandar pada doktrin agama, ajaran gaib, atau kepercayaan pada Tuhan.

Menurutnya, "perbuatan di atas kepercayaan" (deed before creed)—yang terpenting dari hidup manusia adalah tindakan nyata untuk berbuat baik dan menghargai martabat sesama, pengambilan keputusan yang menyangkut nasib seseorang menuntut empati dan komunikasi yang terbuka.

• Kepastian dan Keadilan Proses:

Ketika pemberhentian terjadi tanpa pola yang dapat diprediksi secara publik, timbul rasa waswas atau kecemasan tidak hanya bagi yang bersangkutan, tetapi juga bagi jajaran teknokrat di bawahnya.

Humanisme mendorong keterbukaan (transparency) agar keputusan politis tidak terasa sebagai tindakan yang mengabaikan nilai-nilai keadilan sosial dan personal.

3. Dampak Kebijakan terhadap Kesejahteraan Rakyat (Public Well-being)
Core utama dari humanisme adalah memperjuangkan nilai hidup dan kesejahteraan manusia. 

Dalam konteks posisi Menteri Keuangan, setiap kebijakan berimplikasi langsung pada daya beli, stabilitas harga, dan kelangsungan hidup masyarakat luas.Gus Dur merupakan tokoh utama yang mengintegrasikan humanisme ke dalam kesejahteraan publik. 

Prinsip terkenalnya, "Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan," menjadi pijakan bahwa kebijakan publik dan tata negara harus mengutamakan perlindungan rakyat kecil, kaum minoritas, dan kesejahteraan bersama tanpa membeda-bedakan.

• Evaluasi Berbasis Nilai Kemanusiaan: 

Pergantian pejabat publik dinilai humanis apabila bertujuan untuk menyelamatkan perekonomian warga dan menjaga stabilitas fiskal demi kesejahteraan umum.

• Keberlanjutan Kebijakan Publik: 

Perubahan kepemimpinan yang mendadak membawa tantangan pada kontinuitas program sosial.
 Humanisme menuntut agar pergeseran jabatan tidak mengorbankan program-program yang berkaitan langsung dengan piring nasi rakyat kecil.

Kesimpulan

Secara humanis, pemecatan atau pemberhentian Purbaya memperlihatkan batas tipis antara tuntutan sistemik kekuasaan dan sisi kemanusiaan individu. 

Di satu sisi, langkah tersebut merupakan instrumen politik-manajerial; di sisi lain, ia mengingatkan bahwa di balik jabatan teknokratis yang dingin, terdapat aspek empati, penghormatan atas martabat, serta kepedulian terhadap nasib publik yang harus selalu diutamakan.

***Penulis adalah Kepala KUA Padangsidimpuan Selatan

Pewarta: Dr. H.M.Asroi Saputra, S.Sos I, MA ***)
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.