Bagikan:
JAKARTA - Stres bukan cuma membuat pikiran lelah. Saat tekanan datang terus-menerus, tubuh juga ikut bekerja keras. Detak jantung naik, tekanan darah meningkat, napas berubah, dan daya tahan tubuh bisa melemah.
The Guardian dikutip Sabtu, 25 Juli, melaporkan, tubuh manusia memiliki cara kerja alami untuk menghadapi ancaman. Sistem itu dulu berguna saat manusia harus menghadapi bahaya fisik. Namun, dalam hidup modern, pemicunya sering datang dari tekanan pekerjaan, media sosial, konflik keluarga, atau kecemasan yang berulang.
Prof Kavita Vedhara, pakar stres dan kedokteran perilaku di Cardiff University, mengatakan efek paling cepat dari situasi penuh tekanan adalah lonjakan adrenalin.
“Efek paling langsung yang kami lihat dalam situasi penuh tekanan adalah lonjakan adrenalin yang menyebabkan peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan pernapasan,” kata Vedhara.
Menurut Vedhara, reaksi itu dikenal sebagai respons fight-or-flight. Artinya, tubuh bersiap untuk melawan atau lari dari ancaman.
BACA JUGA:
Sekitar 30 menit setelah respons cepat itu, kadar kortisol juga naik. Kortisol sering disebut hormon stres, meski istilah itu dianggap terlalu menyederhanakan.
Vedhara mengatakan kortisol membantu mengatur tekanan darah, menekan peradangan, dan meningkatkan ketersediaan gula darah untuk menambah energi. Respons ini berguna ketika tekanan hanya datang sesaat.
Masalahnya muncul saat stres berlangsung lama. Ketika tubuh terus berada dalam mode siaga, energi tubuh dialihkan dari fungsi lain seperti pencernaan, perbaikan jaringan, dan sistem imun.
Dalam kondisi normal, tubuh bisa pulih setelah ancaman selesai. Pada stres kronis, tubuh tidak punya cukup waktu untuk kembali stabil.
“Mungkin masalah paling dikenal yang berkaitan dengan stres kronis adalah fungsi kekebalan tubuh yang lebih buruk. Ini dapat meningkatkan risiko infeksi, membuat vaksin bekerja kurang efektif, mengganggu penyembuhan luka, dan sebagainya,” kata Vedhara.
Menurut Vedhara, stres kronis juga terbukti meningkatkan risiko obesitas, depresi, dan perkembangan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Penyakit neurodegeneratif adalah penyakit yang menyerang sel saraf secara bertahap. Alzheimer termasuk di dalamnya dan biasanya berkaitan dengan penurunan daya ingat serta kemampuan berpikir.
Dr Jo Daniels, dosen senior psikologi di University of Bath, mengatakan respons stres juga bisa menciptakan lingkaran yang tidak sehat.
Saat stres, seseorang bisa lebih peka terhadap perubahan tubuh yang sebenarnya normal. Detak jantung yang cepat, misalnya, dapat terasa menakutkan. Kekhawatiran itu lalu membuat sensasi tubuh terasa makin kuat dan menambah kecemasan.
“Ketika berada dalam respons stres, kita menjadi sangat waspada. Jadi, kita lebih mungkin menganggap variasi normal dalam sensasi tubuh sebagai ancaman,” kata Daniels.
Menurut Daniels, hormon stres juga dapat mengganggu cara seseorang mengambil keputusan. Dalam kondisi itu, orang bisa merespons masalah dengan cara yang justru tidak membantu.
Ia memberi contoh, seseorang yang merasa gelisah bisa memilih tidak keluar rumah karena tubuh terasa memberi sinyal bahaya.
Para ahli tidak menempatkan semua stres sebagai musuh. Tubuh memang dirancang untuk merespons tekanan dan pulih kembali. Yang menjadi masalah adalah stres yang berlangsung lama dan terus berulang.
Vedhara mengatakan dampak nyata terhadap kesehatan lebih mungkin muncul pada pemicu stres jangka panjang.
Dalam laporannya, The Guardian juga mencatat sebuah studi penting pada 1990-an yang melibatkan hampir 400 sukarelawan sehat. Mereka dipaparkan pada virus flu biasa. Hasilnya, stres berkaitan kuat dengan kecenderungan seseorang menjadi sakit.
Usia dan pengalaman hidup ikut berpengaruh. Orang dewasa yang lebih tua, dengan sistem imun yang mulai menurun, dapat merasakan dampak lebih berat dari stres kronis. Orang yang pernah mengalami trauma juga mungkin memiliki ambang respons stres lebih rendah.
“Banyak hal bergantung pada pengalaman hidup Anda,” kata Daniels.
Menurut Daniels, sebagian orang justru bisa berkembang dalam pekerjaan penuh tekanan. Namun, dalam jangka panjang, setiap orang tetap punya batas.
Untuk mengelola stres, salah satu cara yang didukung bukti adalah berhenti sejenak dan memperlambat napas. Saat stres, orang cenderung bernapas pendek dan cepat. Pola itu bisa memperkuat sinyal ancaman dalam tubuh.
“Jika Anda bernapas perlahan, Anda memberi pesan kepada otak bahwa semuanya baik-baik saja, Anda aman,” kata Daniels.
Olahraga juga dapat membantu mengurangi penumpukan adrenalin akibat respons stres tinggi.
Namun, cara sederhana seperti mengatur napas paling berguna untuk stres akut atau stres sementara. Stres berat dan berkepanjangan tidak cukup ditangani hanya dengan menarik napas sebentar.
Jika stres sering muncul dan berlangsung lama, pilihan lain adalah terapi psikologis berbasis bukti, termasuk terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioural therapy yang dikenal sebagai CBT.
CBT membantu orang memeriksa ulang pikiran yang muncul saat tertekan. Daniels mengatakan orang yang stres sering langsung berpikir tidak sanggup menghadapi masalah. Padahal, pikiran tidak selalu fakta.
Teknik lain adalah pengurangan stres berbasis mindfulness. Pendekatan ini membantu seseorang mengambil jarak dari pikiran yang tidak membantu, bukan melawannya secara langsung.
Daniels mengatakan stres kronis perlu ditangani dengan perubahan gaya hidup, dukungan sosial, dan keterampilan menghadapi masalah yang lebih sehat.
“Saya menyarankan orang mencari bantuan ketika mereka mengalami stres hampir sepanjang waktu, atau jika mereka sendiri khawatir dengan tingkat stres mereka,” kata Daniels.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+