Jakarta -

Upacara Detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka berlangsung dengan khidmat dan meriah. Deretan pejabat datang mengenakan baju adat.

Dimulai dari Wapres Gibran Rakabuming Raka yang mengenakan baju adat Nusa Tenggara Timur. Busana yang dikenakan Gibran merupakan perpaduan pakaian adat masyarakat Rote. Penampilannya dilengkapi kain tenun Rote, senjata tradisional, topi Ti'i Langga, dan aksesori kalung adat.

Berdasarkan keterangan Sekretariat Wakil Presiden, Gibran mengenakan jas hitam dengan kain Lafa atau kain tenun Rote. Kain tersebut digunakan sebagai bawahan sekaligus diselempangkan di bahu. Kain ini memiliki tiga warna utama, merah, hitam dan putih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kain Lafa yang dikenakan Gibran memiliki motif Hua Peni. Motif tersebut menggambarkan keluhuran dan keteraturan adat dalam kehidupan masyarakat Rote. Penampilan Gibran makin sempurna dengan topi Ti'i Langga.

Topi tradisional ini merupakan salah satu ciri khas masyarakat Pulau Rote. Ti'i Langga memiliki bentuk khas dengan bagian depan yang menjulang dan menyerupai tanduk atau jambul. Bagian tersebut dapat memiliki panjang sekitar 40-60 sentimeter. Topi Ti'i Langga dibuat dari daun lontar yang dikeringkan.

Gaya Selvi Ananda dan Nagita Slavina saat Upacara HUT ke-81 RIGaya Selvi Ananda dan Nagita Slavina saat Upacara HUT ke-81 RI Foto: Dok. Instagram, 20detik, YouTube Setpres. Setwapres

Sementara itu, menteri-menteri di Kabinet Merah Putih juga datang ke acara tersebut dengan mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto datang dengan mengenakan pakaian adat Palembang. Sedangkan, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria mengenakan pakaian adat Minangkabau.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait terlihat mengenakan baju adat Lampung. Sedangkan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni beserta istri mengenakan baju adat Kajang, sementara Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki beserta istri Gina Rohmat Marzuki tampak mengenakan pakaian adat Batak.

Masing-masing pejabat punya alasan tersendiri mengapa memilih mengenakan pakaian adat dari daerah tertentu. Maruarar Sirait misalnya, memilih baju adat Lampung untuk mengingat jasa para pahlawan.

"Pakaian adat dari Lampung. Nanti kita habis ini menghadiri upacara HUT RI di Istana Merdeka, Jakarta bersama bapak Presiden Prabowo. Jadi bagus karena kita mengingat jasa pahlawan kita dan kita berdoa untuk bisa semangat, sehat untuk meneruskan perjuangan para pahlawan kita untuk negara dan rakyat kita," ujar Maruarar atau akrab disapa Ara di Jakarta seperti dikutip dari Antara, Senin (17/8/2026).

Pakaian adat yang dikenakan Menhut juga bukan sekadar asal memilih busana. Ia menyebut pakaian tersebut merepresentasikan masyarakat adat Kajang yang memiliki kemampuan dalam menjaga hutan. Menhut menyebut masyarakat adat Kajang sebagai salah satu penjaga hutan tropis terbaik.

"Ini baju Suku Kajang, Sulawesi Selatan. Salah satu masyarakat adat yang paling memiliki kemampuan menjaga hutan The best guardian of our tropical forest, menjaga hutan tropis kita," kata Menhut Raja Antoni di Istana Merdeka, Senin (17/8/2026).

Pakaian serba hitam menjadi ciri khas dari masyarakat adat Kajang. Warna tersebut berkaitan dengan prinsip hidup sederhana dan tidak berlebihan yang mereka pegang. Nilai itu sejalan dengan falsafah kamase-mase yang menempatkan kehidupan yang secukupnya dan selaras dengan lingkungan sebagai bagian penting dari keseharian masyarakat Kajang.

Pakaian adat yang dikenakan para pejabat menunjukkan keberagaman budaya Nusantara. Mereka menjadi representasi masyarakat adat yang memiliki peran penting dalam menjaga kebudayaan Indonesia yang kaya.

(wsw/wsw)