Dian Eko Prasetio

| 18 Oktober 2026, 15:54 WIB

Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang

Pasangan ganda putra bulutangkis Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, saat beraksi menghadapi Wang Chang/Liang Wei Keng di semifinal Denmark Terbuka 2026 di Odense, Denmark, Sabtu (17/9/2026). PBSI.

AKURAT.CO, Pengalaman kurang menyenangkan dialami pemain ganda putra bulutangkis Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, saat melakoni laga babak semifinal ajang BWF World Tour Super 750 Denmark Terbuka 2026.

Pada laga empat besar Denmark Terbuka tersebut, Fajar/Fikri mampu meredam perlawanan pasangan ganda putra terbaik China yang merupakan unggulan kedua kejuaraan, Liang Wei Keng/Wang Chang, dengan skor akhir 21-16, 16-21, dan 21-16 di SJF Bank Arena, Odense, Denmark, Sabtu (17/10/2026).

Fajar menyoroti penerapan aturan baru time clock oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) yang dinilainya perlu ditinjau ulang lantaran membuat permainan menjadi sangat terburu-buru.

Kekecewaan Fajar memuncak setelah dirinya dijatuhi sanksi berupa kartu merah yang berujung pada penambahan poin gratis untuk pasangan lawan.

Baca Juga: Denmark Terbuka: Fajar/Fikri Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia di Final Usai Singkirkan Liang/Wang

Sanksi dijatuhkan akibat Fajar dianggap melanggar batas waktu time clock. Padahal ia hanya berniat mengganti shuttlecock yang sudah rusak.

Pemain jebolan PB Mutiara Cardinal tersebut menjelaskan bahwa ia dan Fikri sejatinya telah berupaya mematuhi prosedur dengan meminta izin terlebih dahulu kepada wasit (umpire).

"Untuk kami berdua pasti belum terbiasa saja ya, meskipun di Indonesia sempat ada peraturan time clock ini tapi kami belum ada peringatan dan belum ada kartu kuning atau penambahan poin lawan ya seperti tadi (kartu merah)," kata Fajar.

"Kami tidak men-delay, tapi kami berusaha mencoba mengganti shuttlecock yang sudah rusak. Tapi pas kembali ke lapangan kami sudah dikasih kartu merah, padahal umpire sudah mengizinkan untuk ganti."

Fajar menilai bahwa aturan time clock yang terlalu ketat sangat membatasi ruang gerak atlet untuk sekadar mengambil napas serta mengatur tempo fisik di tengah duel yang menguras stamina.

Apalagi, BWF juga tengah mewacanakan perubahan format skor menjadi 15 poin pada musim mendatang. Kombinasi dua aturan anyar ini dinilai Fajar justru berpotensi merusak kualitas serta kenyamanan bertanding para atlet di atas lapangan.

Halaman:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D

H

Resmi Dibuka Kaisar Naruhito, Asian Para Games 2026 Usung Tema 'We Are Beautiful Individuals'

Kontroversi Hutan Lindung PT Ifishdeco, Kepala Gakkum Menghindar Ditagih Data

Bukan Hanya Benteng Maritim, KRI Sriwijaya-100 Turut Jadi Tumpuan Tanggap Bencana

Orang Tua Balita yang Viral Menangis di Gunung Prau Minta Video Dihapus

WNI di Prancis Diminta Waspadai Dampak Demonstrasi Besar-besaran