Kini, suara lantang itu telah berhenti. Iwan Setiawan berpulang setelah lebih dari dua dekade menjalani dunia kepelatihan dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di lapangan hijau.

Jakarta (ANTARA) - Pelatih yang melegenda di sepak bola Indonesia, Iwan Setiawan, meninggal dunia pada usia 68 tahun, Kamis (3/9).

Kepergian Iwan meninggalkan duka mendalam bagi sepak bola nasional. Sosok yang dikenal tegas, berani, dan blak-blakan itu menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia sepak bola, baik ketika masih aktif sebagai pemain maupun setelah beralih profesi menjadi pelatih.

Iwan merupakan salah satu pelatih sepak bola Indonesia dengan perjalanan panjang di kancah sepak bola nasional. Pengalamannya sebagai pemain profesional, termasuk saat memperkuat tim nasional Indonesia, menjadi bekal penting ketika ia kemudian memilih menekuni dunia kepelatihan.

Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, 5 Juli 1958, itu mengawali kiprahnya di sepak bola dari level usia muda. Dari sana, kariernya berkembang hingga membawanya memperkuat sejumlah klub dan tim nasional Indonesia.

Semasa menjadi pemain, Iwan pernah memperkuat Timnas Indonesia U-16, U-19, U-23, hingga senior. Di level klub, ia antara lain membela Pelita Jaya, Arseto Solo, dan Persija Jakarta.

Dedikasi total

Karier Iwan sebagai pemain berlangsung hingga pertengahan dekade 1990-an. Namun, gantung sepatu bukan berarti ia meninggalkan lapangan hijau. Justru dari sana babak baru dalam hidupnya dimulai. Iwan beralih ke dunia kepelatihan dan mendedikasikan hidupnya untuk sepak bola. Ia juga tercatat memiliki lisensi kepelatihan Pro AFC.

Pengalaman panjang sebagai pemain menjadi modal berharga bagi Iwan ketika memasuki dunia kepelatihan. Ia memahami karakter pemain, dinamika ruang ganti, hingga tekanan yang menyertai kompetisi profesional.

Iwan memulai karier kepelatihannya pada 1997 dengan menangani tim junior Persija Jakarta. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi pelatih Persikabo Bogor. Dari sana, perjalanan panjangnya sebagai pelatih membawanya menangani berbagai klub di sejumlah level kompetisi sepak bola Indonesia.

Ia kemudian memperkuat rekam jejaknya dengan menangani Persija Jakarta, Persijatim Solo FC, Persikaba Bali, Persibom Bolaang Mongondow, PSMS Medan, Persela Lamongan, dan sejumlah klub lainnya.

Pengalamannya tidak hanya terbatas pada level klub. Pada 2004–2005, Iwan dipercaya menangani Timnas Indonesia U-17. Kesempatan tersebut memperluas kiprahnya dalam pembinaan pemain muda sekaligus menunjukkan kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk ikut mengembangkan talenta sepak bola nasional.

Baca juga: Obituari: Alex Noerdin, sang arsitek "Jakabaring Sport City"

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.