Minggu, 26 Juli 2026, 08:00 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkap versi berbeda terkait kasus satpam Victor Harefa yang viral usai terlibat cekcok dengan sejumlah anggota Polda Jawa Barat di kawasan Bundaran HI, Jakarta.
Dalam percakapan yang diunggah di kanal YouTube pribadinya pada 25 Juli 2026, Dedi secara langsung mengklarifikasi sejumlah narasi yang sebelumnya beredar, termasuk soal kabar Victor dipaksa bersujud oleh oknum aparat.
Di hadapan Dedi, Victor menegaskan dirinya bersujud bukan karena diperintah, melainkan atas inisiatif sendiri karena takut kehilangan pekerjaan.
Victor mengaku baru bekerja sekitar tiga bulan sebagai petugas keamanan di proyek MRT Jakarta. Ancaman akan dilaporkan kepada perusahaan penyedia jasa keamanan membuatnya panik.
"Saya baru tiga bulan kerja. Saya takut dipecat," kata Victor kepada Dedi.
Dedi bahkan beberapa kali memastikan jawaban tersebut dengan bertanya ulang apakah benar tidak ada perintah untuk bersujud.
Victor tetap menjawab bahwa sujud dilakukan atas kemauannya sendiri sebagai bentuk permohonan agar persoalan tidak diteruskan ke perusahaan tempatnya bekerja.
Menurut penuturan Victor, insiden bermula ketika ia sedang membantu pengamanan penyeberangan di sekitar proyek MRT saat lampu lalu lintas sedang merah untuk kendaraan.
Ia melihat sebuah mobil tetap melaju ketika seharusnya pejalan kaki mendapat hak menyeberang.
Victor kemudian menepuk kendaraan tersebut karena mengira pengemudi tidak menyadari lampu merah atau sedang mengantuk.
"Saya cuma menyelamatkan nyawa orang lain di sini," ujar Victor saat menjelaskan alasan menegur pengemudi.
Setelah itu terjadi adu mulut hingga akhirnya Victor mengajak seluruh pihak menuju pos polisi agar persoalan diselesaikan secara baik-baik.
Dalam percakapan itu, Dedi mempertanyakan mengapa pembahasan di pos polisi lebih banyak menyoroti tindakan Victor yang mengetuk kendaraan dibanding dugaan pelanggaran lampu merah.
Menurut Victor, ia telah menjelaskan kronologi sejak awal, namun pembicaraan justru berfokus pada tindakannya mengetuk mobil.
Dedi kemudian menilai apabila memang kendaraan tersebut menerobos lampu merah, maka pelanggaran lalu lintas semestinya juga menjadi perhatian.
"Kalau lampu merah yang ditabrak berarti otomatis yang nabrak lampu merah ditilang dulu dong," kata Dedi.
Selain itu, Dedi juga menyinggung adanya informasi mengenai dugaan penggunaan pelat nomor palsu yang menurutnya juga perlu diproses apabila terbukti.
Baca Juga: Disebut Babat Gunung Galuga, Dedi Mulyadi Bahas Ada Muatan Politik
Victor mengaku persoalan tersebut sebenarnya telah diselesaikan secara kekeluargaan.
Ia mengatakan oknum aparat yang terlibat telah mengakui kesalahan dalam pertemuan di Polres Metro Menteng.
Kedua pihak juga disebut telah saling memaafkan serta menandatangani surat pernyataan bahwa tidak akan menyimpan dendam.
Sementara itu, Dedi mengatakan dirinya telah berkomunikasi dengan jajaran Polda Jawa Barat.
Menurutnya, proses pemeriksaan internal terhadap anggota yang terlibat masih berjalan dan ia berharap penanganannya dilakukan secara objektif sesuai aturan yang berlaku.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.