Debit air PDAM Temanggung turun 20 persen pada musim kemarau
Selasa, 1 September 2026 16:46 WIB
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Agung Temanggung Rinto Adhi Utomo menjawab pertanyaan wartawan di Temanggung, Selasa (1/9/2026) ANTARA/Heru Suyitno
Temanggung (ANTARA) - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Agung Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengalami penurunan debit pasokan air sekitar 20 persen memasuki musim kemarau, sementara di wilayah Jumo penurunan debit bahkan tercatat hingga 30 persen.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Agung Temanggung Rinto Adhi Utomo di Temanggung, Selasa, menyampaikan kondisi tersebut belum sampai menyebabkan penghentian maupun penggiliran aliran air kepada pelanggan.
"Pelayanan pelanggan di Temanggung rata-rata penurunannya sekitar 20 persen. Kalau di Jumo, penurunannya bisa sampai 30 persen," katanya.
Ia mengatakan PDAM Temanggung sendiri mengelola sekitar 20 sumber mata air yang tersebar di wilayah kabupaten tersebut. Selain itu, terdapat masing-masing satu sumber mata air yang dikelola dari wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang.
Dari seluruh sumber mata air tersebut, katanya, hingga saat ini belum ada yang mengalami kondisi mati total. Namun, penurunan debit cukup signifikan terjadi selama musim kemarau, terutama di wilayah Jumo.
Ia menyampaikan, dampak penurunan debit air tersebut di sejumlah daerah yang biasanya mendapatkan aliran air selama 24 jam, kini durasi aliran dapat berkurang menjadi sekitar 16 jam per hari. Meskipun demikian, kondisi tersebut belum sampai pada penerapan sistem penggiliran air.
Menurut dia, untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat di wilayah yang mengalami kekeringan, pemerintah daerah sebelumnya telah melakukan sejumlah langkah penanganan yang dikoordinasikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dengan dukungan dari PDAM, Palang Merah Indonesia (PMI), dan Dinas Sosial.
Ia mengatakan distribusi air menggunakan tangki dilakukan bagi wilayah yang teridentifikasi mengalami kekeringan. Data wilayah yang mendapatkan suplai tersebut nantinya juga menjadi bahan pemantauan BPBD setiap memasuki musim kemarau.
Langkah tersebut dilakukan agar wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dapat terdata dengan baik, sehingga upaya antisipasi dan penanganan pada musim kemarau berikutnya dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Pewarta: Heru Suyitno
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.