Daya beli petani Lampung naik dikerek harga kopi dan kakao
Selasa, 4 Agustus 2026 11:20 WIB
Petani bawang yang ada di Kabupaten Pesawaran sedang mengelola lahannya. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.
Bandarlampung (ANTARA) - Daya beli petani di Provinsi Lampung mengalami kenaikan, yang ditandai dengan Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 132,64 atau meningkat 2,11 persen dibandingkan bulan sebelumnya, dikerek oleh harga komoditas andalan seperti gabah, kopi, dan kakao.
Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung Hermawan Prasetyo menjelaskan tren positif tersebut terjadi karena kenaikan harga jual hasil panen lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya yang harus dikeluarkan petani untuk kebutuhan hidup dan produksi.
"Kondisi ini mencerminkan adanya perbaikan daya beli petani di Provinsi Lampung. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) meningkat 2,11 persen menjadi 172,46, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya mengalami kenaikan sebesar 2,09 persen menjadi 130,03," ujar Hermawan dalam paparannya secara daring di Bandarlampung, Senin.
Jika dirinci berdasarkan subsektornya, lonjakan daya beli paling besar dirasakan oleh petani di subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yang naik 2,63 persen menjadi 166,61. Disusul oleh subsektor Tanaman Pangan yang naik 2,45 persen menjadi 112,70, serta subsektor Perikanan yang meningkat 1,50 persen.
Khusus untuk perikanan, peningkatan paling besar didorong oleh perikanan budidaya (naik 2,40 persen), sedangkan perikanan tangkap hanya naik tipis 0,21 persen.
Meski secara umum daya beli petani membaik, masih terdapat dua subsektor yang mengalami penurunan nilai tukar. Subsektor Hortikultura tercatat turun 0,78 persen menjadi 133,40, dan subsektor Peternakan menyusut 0,23 persen menjadi 99,06.
Sementara itu, sedikit naiknya beban biaya yang harus dibayar petani pada Juli 2026 lebih banyak dipengaruhi oleh naiknya harga kebutuhan pangan rumah tangga, seperti bawang merah, cabai merah, dan telur.
Sebagai informasi, Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator utama untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani dengan membandingkan indeks harga yang diterima dari hasil produksi dengan indeks harga yang dibayar untuk kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi.
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor:
Citro Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.