REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI — Di sekitar rumah Maryati, eceng gondok tumbuh liar di sungai dan selama ini lebih banyak dipandang sebagai gulma yang mengganggu. Namun, di mata Maryati, tanaman tersebut menyimpan peluang ekonomi yang berpotensi menghasilkan keuntungan.
Ia mengolahnya menjadi beragam kerajinan anyaman, mulai dari tas, keranjang, hingga berbagai produk lainnya yang memiliki nilai jual. Bermula dari bahan yang mudah ditemukan di lingkungan tempat tinggalnya, Maryati perlahan mengembangkan usaha kerajinan eceng gondok secara konsisten.
Kreativitas menjadi modal utamanya untuk mengubah tanaman yang kerap dianggap tidak bernilai menjadi produk fungsional dengan peluang pasar yang menjanjikan. Langkah tersebut semakin berkembang setelah Maryati bergabung sebagai nasabah PT Permodalan Nasional Madani (Persero).
Bersama PNM Mekaar, melalui pendampingan usaha yang diterimanya, Maryati mendapatkan dukungan untuk mengembangkan kapasitas usahanya. Dukungan ini mencakup peningkatan kualitas produk hingga perluasan akses pasar ke luar daerah.
Kini, kerajinan eceng gondok buatan Maryati telah dipasarkan ke berbagai wilayah, termasuk Yogyakarta dan Bali. Dari Tegalwaru, Bekasi, produk yang berawal dari tanaman liar di sungai tersebut kini berhasil menjangkau konsumen yang lebih luas.
Bagi Maryati, perkembangan tersebut menjadi bukti nyata bahwa peluang usaha dapat ditemukan dari hal-hal sederhana di sekitar lingkungan tempat tinggal. “Awalnya eceng gondok ini saya lihat tumbuh di sekitar rumah. Dari situ saya berpikir bagaimana tanaman ini bisa dimanfaatkan dan menghasilkan. Alhamdulillah, sekarang kerajinan yang saya buat sudah bisa dipasarkan ke luar daerah. Saya ingin terus mengembangkan usaha ini supaya produknya semakin dikenal,” kata Maryati, Kamis (8/10/2026).
Kisah Maryati menunjukkan bahwa membangun usaha tidak selalu harus dimulai dari modal besar. Ketika potensi di sekitar dilihat dari sudut pandang berbeda, bahan sederhana pun dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Hal tersebut sejalan dengan semangat pemberdayaan yang terus dijalankan oleh PNM. Tidak hanya memberikan akses pembiayaan, PNM juga menghadirkan pendampingan agar nasabah dapat mengembangkan kapasitas usaha, meningkatkan kualitas produk, melihat peluang pasar, dan membangun kemandirian ekonomi.
“Ibu Maryati tidak perlu mencari bahan baku jauh-jauh untuk memulai usahanya. Ia melihat peluang dari apa yang ada di sekelilingnya, lalu mengubah eceng gondok yang selama ini dianggap gulma menjadi produk yang bernilai dan memiliki pasar. Bagi kami, cerita seperti ini menunjukkan bahwa pemberdayaan bukan hanya tentang memberikan akses, tetapi juga tentang membuka ruang agar potensi yang sudah dimiliki nasabah dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi,” ujar Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Kindaris.
Bagi Maryati, perjalanan ini membawa karya eceng gondok melangkah jauh dari tempat asalnya di tepi sungai. Dari tanaman yang dahulu diabaikan, kini lahir tas, keranjang, dan berbagai karya anyaman yang menjangkau konsumen dari Yogyakarta hingga Bali.
Dari sesuatu yang tumbuh liar di perairan, Maryati berhasil menemukan peluang untuk tumbuh dan mandiri bersama usahanya. Pemberdayaan tersebut terbukti mampu mengangkat kesejahteraan dan kemandirian ekonomi keluarga.