Jakarta, CNN Indonesia --

Danantara Indonesia menyatakan kesiapannya masuk ke pasar saham domestik di tengah potensi tekanan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management Rani Piputri menegaskan langkah pembelian saham di kala krisis tersebut murni didasarkan pada perhitungan nilai investasi atau valuasi yang menguntungkan.

"Jika terjadi krisis di pasar dan kami merasa hal itu hanya didasarkan pada sentimen eksternal yang sifatnya sangat sementara, maka kami mungkin akan masuk ke pasar," ujar Rani, Sabtu (10/10), dikutip dari Reuters.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jadi, masuknya Danantara saat IHSG anjlok bukan ditujukan sebagai bentuk intervensi untuk menstabilkan pasar.

"Kami membeli saham pada awal tahun ini karena melihat adanya nilai investasi. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar. Sangat bagus ketika orang-orang tidak menyukai sesuatu, sedangkan kami melihat ada nilai di dalamnya, karena dengan begitu kami bisa mendapatkannya dengan harga yang bagus. Kemudian, ketika mereka kembali menyukainya, kami bisa menjualnya kepada mereka," ujar Rani.

Strategi ini juga menjadi sinyal penenang bagi investor yang tengah mengkhawatirkan potensi aksi jual besar-besaran apabila penyedia indeks MSCI merealisasikan penurunan status pasar Indonesia dari emerging market menjadi frontier market pada bulan depan.

Jika penurunan klasifikasi tersebut memicu aksi jual lebih lanjut pada bulan depan, Rani mengatakan Danantara berpeluang masuk ke pasar apabila langkah tersebut dinilai menguntungkan.

"Kami mungkin akan masuk. Kami mungkin melakukannya, tetapi ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan," ujarnya.

Dari sisi alokasi modal, unit investasi publik Danantara sejauh ini telah menanamkan sekitar US$3 miliar dan berencana menyuntikkan tambahan US$1 miliar hingga akhir tahun.

Mayoritas portofolio tersebut dialokasikan pada instrumen saham sebesar 65 persen, diikuti oleh pendapatan tetap 30 persen, dan hedge fund 5 persen, dengan seperempat dari total dana difokuskan pada pasar Indonesia.

Selain instrumen konvensional, Danantara juga mulai melirik sektor kecerdasan buatan (AI). Menyadari relatif terlambat ke sektor tersebut, Danantara menerapkan pendekatan yang sangat berhati-hati dan terukur untuk memitigasi risiko.

Menurut Rani, Danantara tidak memandang tren AI saat ini sebagai gelembung (bubble) spekulatif.

"Kami tidak berpikir AI merupakan gelembung dan kami juga tidak berpikir gelembung itu akan pecah. Namun, kami ingin berhati-hati ketika mulai masuk ke sektor ini karena kami relatif terlambat," ujar Rani.

Dia menggambarkan eksposur Danantara terhadap AI sebagai investasi yang dilakukan secara cermat.

"Anda sudah mulai mendengar orang-orang berbicara tentang kemungkinan gelembung, dan itu bagus karena dapat menjaga pasar tetap terkendali. Jika semua orang menganggap AI sebagai investasi yang bagus, maka kami menghadapi masalah," ujar Rani.

Terpisah, Managing Director Global Relations & Communications Danantara Indonesia Pahala Mansury mengatakan Danantara diharapkan menghasilkan imbal hasil 200 hingga 300 basis poin di atas biaya modalnya.

Biaya modal tersebut tercatat sebesar 5,35 persen berdasarkan penerbitan obligasi dolar AS bertenor lima tahun pada Juni.

Dividen sebesar Rp120 triliun, yang menurut pernyataan Menteri Keuangan periode 2025-2026 Purbaya Yudhi Sadewa akan dibayarkan Danantara kepada pemerintah tahun ini, juga berpotensi tetap disimpan oleh lembaga tersebut.

"Kami sedang berdiskusi dengan Menteri Keuangan yang baru, Suahasil. Sejauh ini, indikasi yang kami terima adalah kami masih dapat mengelola dividen tersebut. Namun, tentu saja, kami masih harus menunggu keputusan final," ujar Pahala.

Pahala mengatakan Danantara tidak memiliki mandat eksplisit untuk menstabilkan pasar.

"Kami meyakini peran kami seharusnya memastikan bahwa apa pun yang kami lakukan tidak dipandang investor asing sebagai semacam intervensi pasar, melainkan sebagai upaya untuk terus berkontribusi terhadap pendalaman pasar keuangan dan tata kelola yang lebih baik," ujarnya.

[Gambas:Youtube]

(dhz/pta)