Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara (Asean) merilis realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026.

Dari enam negara, Vietnam mencatat pertumbuhan tertinggi dengan 8,39 persen secara tahunan (yoy).

Lalu, bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara ASEAN lainnya?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut daftar pertumbuhan ekonomi sejumlah negara ASEAN pada kuartal II 2026:

1. Vietnam: 8,39 persen

Vietnam menjadi negara ASEAN dengan pertumbuhan tertinggi pada kuartal II 2026. Ekonomi Vietnam tumbuh 8,39 persen (yoy) pada kuartal II 2026.

Berdasarkan laporan National Statistics Office of Vietnam, sektor industri dan konstruksi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 10,51 persen dan menyumbang 50,07 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sektor jasa menyusul dengan pertumbuhan 7,87 persen sedangkan pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,06 persen

Pertumbuhan ekonomi Vietnam juga ditopang oleh bidang perdagangan, investasi, dan industri.

Pada Juni 2026, produksi industri Vietnam tumbuh 12,7 persen yoy, sementara ekspor meningkat 8,2 persen.

2. Malaysia: 6 persen

Ekonomi Malaysia tumbuh 6 persen yoy pada kuartal II 2026. Pertumbuhan ini menguat dibandingkan kuartal I 2026 yang mencapai 5,4 persen.

Berdasarkan laporan Bank Negara Malaysia (BNM), pertumbuhan ekonomi ditopang oleh permintaan domestik yang tetap kuat dan ekspor yang meningkat.

Dari sisi produksi, sektor jasa dan manufaktur menjadi penopang utama. Sektor teknologi informasi dan komunikasi (ICT) tumbuh seiring dengan semakin banyaknya pusat data yang mulai beroperasi.

Sementara itu, sektor manufaktur tumbuh kuat, terutama industri elektronik dan listrik (E&E), yang didorong meningkatnya permintaan terkait kecerdasan buatan (AI).

Sektor pertambangan juga tumbuh seiring dengan meningkatnya produksi gas alam.

3. Singapura: 5,9 persen

Singapura menempati posisi kedua setelah Vietnam sebagai negara ASEAN dengan pertumbuhan tertinggi.

Ekonomi Singapura tumbuh 5,9 persen yoy pada kuartal II 2026, meningkat dari angka advance estimate sebesar 5,7 persen yang dirilis sebelumnya.

Pertumbuhan didominasi oleh sektor manufaktur yang tumbuh 12,2 persen kemudian ditopang oleh peningkatan produksi pada bidang elektronik dan precision engineering (teknologi rekayasa manufaktur), seiring tingginya permintaan terkait teknologi artificial intelligence(AI), termasuk semikonduktor dan peralatan produksi semikonduktor.

Pemerintah Singapura juga memprediksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 4,5 persen-5,5 persen salah satunya karena investasi di bidang AI terus meningkat.

4. Indonesia: 5,29 persen

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara yoy pada kuartal II 2026. Konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dengan sekitar 53,32 persen dari total PDB.

Secara pertumbuhan, konsumsi pemerintah menjadi komponen yang tumbuh paling tinggi, yakni 15,97 persen yoy, diikuti investasi yang tumbuh 6,87 persen dan konsumsi rumah tangga sebesar 5,06 persen

Dari sisi produksi, sektor listrik dan gas mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81 persen kemudian akomodasi dan makan minum sebesar 10,60 persen Sementara itu, industri manufaktur yang memiliki kontribusi terbesar terhadap PDB tumbuh 4,52 persen

Namun, sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi 1,64 persen pada kuartal II 2026.

5. Filipina: 2,3 persen

Ekonomi Filipina tumbuh 2,3 persen yoy pada kuartal II 2026. Pertumbuhan ini melambat dibandingkan dengan kuartal I yang mencapai 2,8 persen dan kuartal II 2025 sebesar 5,4 persen

Berdasarkan data Philippine Statistics Authority (PSA), pertumbuhan ditopang oleh sektor perdagangan grosir dan eceran serta reparasi kendaraan yang tumbuh 4,6 persen Sektor pendidikan tumbuh 12,7 persen sedangkan manufaktur tumbuh 2,6 persen

Di lain sisi, investasi menjadi salah satu penekan utama pertumbuhan usai turun 9,2 persen.

Menteri Ekonomi, Perencanaan, dan Pembangunan Filipina Arsenio Balisacan mengatakan bahwa penurunan tajam konstruksi publik menjadi penyebab utama turunnya investasi.

6. Thailand: 1,9 persen

Ekonomi Thailand tumbuh 2,3 persen (yoy) pada kuartal II 2026, melambat dibanding dengan kuartal I, 2,8 persen. Namun, lajunya tetap tumbuh di atas ekspektasi konsensus, 1,7 persen.

Berdasarkan data National Economic and Social Development Council (NESDC), pertumbuhan ditopang oleh meningkatnya ekspor barang dan jasa yang tumbuh 12,5 persen serta investasi swasta yang melesat 13,4 persen, terutama pada sektor elektronik dan infrastruktur AI.

Sektor jasa tumbuh 2,4 persen, sedangkan pertanian dan industri masing-masing tumbuh 1,5 persen dan 1,1 persen.

Di lain sisi, melemahnya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah menjadi penekan utama pertumbuhan. Konsumsi rumah tangga melambat menjadi 1,9 persen seiring anjloknya tingkat keyakinan konsumen ke level terendah dalam 14 kuartal, sementara belanja pemerintah hampir stagnan di angka 0,2 persen.

Kementerian Perdagangan Thailand menyampaikan melonjaknya ekspor pada semester pertama terjadi karena para eksportir mempercepat pengiriman barang sebelum tarif baru AS berlaku, sehingga laju ekonomi diperkirakan melambat pada semester kedua.

[Gambas:Video CNN]

(lil/sfr)