REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Cyber University (Universitas Siber Indonesia) menggelar Cyber Connect 2026 – Industry University Dialogue pada Kamis (24/9/2026) di Aula Cyber University, Jalan TB. Simatupang No 6, Jakarta Selatan. Forum tersebut mempertemukan pimpinan dan sivitas akademika Cyber University dengan praktisi industri, pengguna lulusan, serta alumni untuk membahas kebutuhan kompetensi talenta digital di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan perubahan dunia kerja.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara Cyber University dan industri untuk mengidentifikasi kebutuhan kompetensi yang berkembang di dunia kerja. Dalam forum tersebut, para praktisi menyampaikan pandangan mengenai kemampuan teknis, pemahaman bisnis, serta karakter yang perlu dimiliki lulusan agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan industri.
Cyber Connect 2026 membahas perubahan kebutuhan industri yang semakin berkembang seiring percepatan transformasi digital. Lulusan tidak hanya dituntut menguasai kemampuan teknis, tetapi juga perlu memahami proses bisnis, karakteristik industri, serta penerapan teknologi dalam menciptakan nilai bagi organisasi. Pemahaman tersebut menjadi penting agar teknologi dapat dimanfaatkan untuk memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Pembahasan mengenai kebutuhan industri juga menegaskan pentingnya hubungan yang lebih erat antara perguruan tinggi dan dunia kerja. Kolaborasi tersebut diperlukan agar perguruan tinggi dapat memahami perkembangan kebutuhan industri sekaligus menyesuaikan proses pembelajaran dengan kompetensi yang dibutuhkan lulusan.
Rektor Cyber University, Gunawan Witjaksono, menyampaikan bahwa industri memiliki peran penting dalam pengembangan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Cyber University memandang industri bukan hanya sebagai pengguna lulusan, tetapi sebagai mitra strategis dalam membentuk masa depan pendidikan. Kami ingin terus mendengarkan kebutuhan industri, belajar dari pengalaman praktis para profesional, dan bersama-sama menciptakan ekosistem pendidikan yang mampu menghasilkan talenta yang relevan, adaptif, dan memberikan nilai nyata,” ujar Gunawan dalam keterangannya, Selasa (29/9/2026).
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu pembahasan utama dalam Cyber Connect 2026. Para praktisi menilai lulusan perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan AI secara efektif, mulai dari menyusun prompt, mengevaluasi respons yang dihasilkan, hingga menggunakan hasil tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Selain kemampuan teknis, pemahaman mengenai penggunaan AI yang aman, etis, dan dapat divalidasi juga menjadi perhatian dalam menghadapi perkembangan teknologi tersebut.
Selain kompetensi AI, forum juga membahas kebutuhan terhadap kemampuan yang lebih spesifik di bidang data, statistik, modelling, cybersecurity, dan manajemen risiko. Perubahan lanskap keamanan digital turut mendorong organisasi untuk memperkuat cyber resilience, sehingga lulusan perlu memahami cara mengantisipasi, menghadapi, merespons, dan memulihkan diri dari berbagai risiko digital. Praktisi juga menyoroti pentingnya pemahaman terhadap perkembangan regulasi serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan di sektor industri.
Tidak hanya kemampuan teknis, Cyber Connect 2026 juga menyoroti pentingnya keterampilan nonteknis dalam mendukung kesiapan lulusan. Kemampuan komunikasi, kerja tim, presentasi, pemahaman bisnis, dan kolaborasi lintas disiplin menjadi kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi lingkungan kerja yang semakin dinamis. Para praktisi juga menekankan pentingnya integritas, akuntabilitas, pola pikir kolaboratif, growth mindset, serta learning agility sebagai bagian dari karakter yang perlu dikembangkan mahasiswa.
Berbagai masukan tersebut menjadi bahan bagi Cyber University untuk memperkuat pembelajaran yang terintegrasi dengan kebutuhan industri. Pendekatan ini dilakukan melalui Company Learning Program (CLP) 3+1, magang, keterlibatan praktisi sebagai dosen tamu, serta penguatan sertifikasi profesional. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran di kampus dengan persoalan dan kebutuhan yang berkembang di dunia kerja.
Cyber Connect 2026 juga menjadi langkah awal bagi Cyber University untuk memperluas kolaborasi dengan industri melalui pengembangan kurikulum dan program pembelajaran. Masukan dari para praktisi akan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat literasi AI, keamanan siber, analisis data, serta kesiapan mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi. Kolaborasi tersebut juga membuka peluang pengembangan kerja sama di bidang magang, penelitian, dan inovasi bersama antara perguruan tinggi dan industri.
Sementara itu, Wakil Rektor Cyber University, Dr. Agus Trihandoyo, menegaskan bahwa masukan dari industri menjadi bagian penting dalam pengembangan pembelajaran di Cyber University. Menurutnya, lulusan perlu memiliki kemampuan untuk memahami persoalan, melihat konteks, dan memberikan solusi yang memiliki nilai bagi organisasi.
“Bagi Cyber University, keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika mahasiswa lulus, tetapi ketika lulusan mampu membawa pengetahuan dan kompetensinya untuk menyelesaikan persoalan nyata dan menciptakan nilai bagi organisasi dan masyarakat,” ujar Dr. Agus.
Melalui Cyber Connect 2026, Cyber University terus memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan industri sebagai bagian dari upaya menyiapkan talenta digital yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.