Jakarta (ANTARA) - Setiap kali mendarat di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, yang juga menjadi landasan pesawat komersial, pandangan mata pasti terpukau oleh pemandangan tanaman hijau nan luas yang tampak seperti alang-alang jika dilihat dari jendela pesawat. Itu tebu.

Ternyata, kebun tebu itu bukan sekadar pemanis pemandangan di sekitar lanud. Tebu-tebu itu benar-benar dibudidayakan untuk berproduksi. Juga ternyata, hasil tebu itu tidak hanya akan menjadi pemanis dalam segelas kopi atau teh. Bukan cuma untuk pangan, tapi sumber energi: bioetanol.

Presiden RI Prabowo Subianto sendiri yang mendatangi kebun tebu di dekat tempat mendaratnya pesawat itu pada Jumat (17/7/2026). Presiden menekan sirene sebagai penanda dimulainya panen serentak di 43 titik di seluruh Indonesia untuk tiga komoditas, yang salah satunya tebu. Tiga komoditas itu adalah tebu, kedelai, dan padi.

Di antara ketiganya, tebu membawa bobot angka paling besar. Lahan binaan TNI AU mencapai 236.048 hektare, dengan potensi produksi 18,386 juta ton tebu, setara 1,36 juta ton gula, atau 45,05 persen dari target produksi gula nasional tahun ini. Khusus di kawasan Lanud Abdulrachman Saleh, lahan siap panen seluas 800,5 hektare yang diperkirakan menghasilkan 72.045 ton tebu.

Angka 236 ribu hektare itu, jika dibandingkan dengan sejarah Nusantara, mengandung ironi yang layak direnungkan. Pada masa kejayaan industri gula pemerintahan kolonial Hindia Belanda di dekade 1930-an, luas areal tebu di Jawa hanya berkisar 196 ribu hingga 200 ribu hektare, namun mampu menghasilkan sekitar 2,9 hingga 3 juta ton gula per tahun dengan produktivitas mencapai 14,7 ton gula per hektare.

Ekspornya menembus 2,4 juta ton dan menempatkan Hindia Belanda sebagai eksportir gula terbesar kedua dunia, setelah Kuba. Artinya, luas lahan yang kini dibina TNI AU untuk program ketahanan pangan sudah melampaui total luas lahan tebu Jawa di era paling produktif pemerintah kolonial. Meski, hasil gula yang diproyeksikan belum menyamai rekor lama itu.

Perbedaan dulu dan sekarang bukan soal rendemen dan teknologi giling pengolahan tebu menjadi gula, tapi juga arah komoditas. Gula era kolonial mengalir keluar, mengisi kas pemerintah Hindia Belanda dan pasar Eropa, dengan rakyat penanam tebu berada di ujung rantai yang paling sedikit menikmati nilai tambah. Setelah kemerdekaan, industri gula Nusantara meredup pelan-pelan, diperparah dengan krisis global bernama "Great Depression" dan kerusakan masa perang. Akibatnya, Indonesia yang dulu salah satu pengekspor terbesar berbalik menjadi salah satu pengimpor gula terbesar di dunia selama puluhan tahun.

Karena itu, panen serentak di Malang, Jawa Timur, adalah satu simpul dari upaya membalik arah itu, dengan gula diarahkan untuk memenuhi kebutuhan domestik lebih dulu.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.