Jakarta -

Tidak semua orang yang tampak mandiri benar-benar merasa baik-baik saja. Sebagian justru terbiasa memikul semua beban sendiri, meski sebenarnya sedang kelelahan dan membutuhkan bantuan.

Kondisi ini dikenal sebagai hyper-independent, yaitu kecenderungan untuk selalu mengandalkan diri sendiri serta enggan meminta pertolongan, meskipun ada orang yang siap memberikan dukungan.

Kebiasaan mandiri seperti ini sering kali terbentuk dari pengalaman hidup yang membuat seseorang merasa harus selalu kuat dan mampu menyelesaikan masalah sendirian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dilansir Parade, pola pikir tersebut juga dapat tercermin dari kalimat yang sering diucapkan dalam keseharian. Ungkapan-ungkapan ini menjadi salah satu cara mengenali seseorang yang memiliki sifat hyper-independent.

Berikut beberapa contoh umum yang sering disampaikan orang dengan hyper-independent:

1. “Saya tidak ingin merepotkan siapa pun”

Orang yang sangat mandiri mungkin kesulitan untuk mengungkapkan kebutuhan mereka sendiri. Oleh karena itu, ungkapan tersebut mencerminkan keyakinan bahwa kebutuhannya harus didahulukan daripada orang lain.

2. “Aku baik-baik saja”

Menurut Psikolog sekolah bersertifikat, terapis, dan penulis buku The Dysregulated Kid, Dr. Roseann Capanna-Hodge, ungkapan ini sering kali disampaikan orang-orang hyper-independent. Mereka cenderung merendahkan perasaannya sendiri.

Orang-orang ini juga sering meminimalkan stres karena telah belajar untuk mengatasi masalah sendiri daripada meminta bantuan orang sekitar.

3. “Saya tidak butuh bantuan”

Orang yang sangat mandiri mungkin kesulitan menerima bantuan, bukan karena tidak menginginkan atau membutuhkannya, tetapi hal itu membuat mereka merasa tidak nyaman.

Ungkapan ini mungkin terdengar kasar, tetapi menunjukkan bahwa respons ini bukan tentang kemampuan, melainkan soal perasaan tidak nyaman menerima dukungan, Bunda.

4. “Aku akan mencari solusinya sendiri”

Kalimat ini juga mencerminkan keyakinan bahwa kemandirian adalah pilihan teraman. Mereka akan berusaha mencari jalan keluar seorang diri, Bunda.

5. “Akan lebih mudah jika saya mengerjakannya sendiri”

Hal ini dapat mencerminkan kesulitan untuk mempercayai bahwa orang lain akan menindaklanjuti. Jika pernah memikul beban kerja terberat dalam sebuah proyek, Bunda pasti memahami hal ini.

6. “Aku bisa mengatasinya”

Capanna-Hodge mengatakan kalimat ini menjadi contoh utama ketika sistem sarafnya belajar menangani sesuatu sendiri terasa lebih aman daripada bergantung pada orang lain.

7. “Jangan khawatirkan aku”

Ia menjelaskan bahwa menjadi sangat mandiri tidak terlalu berarti Bunda tidak ingin berada di sekitar orang lain atau lebih suka sendirian. Justru, hal itu bisa muncul dari kepedulian orang lain.

Banyak orang yang sangat mandiri cepat peduli pada orang lain, tetapi merasa tidak nyaman membiarkan orang lain peduli pada mereka.

Cara mengatasi kepribadian hyper-independent

Jika Bunda merasa memiliki kecenderungan hyper-independent, cobalah mulai lebih terbuka untuk menerima bantuan dari orang lain.

Sifat ini tidak selalu menjadi masalah, tetapi jika memicu rasa kesepian, kelelahan, atau membuat sulit menjalin hubungan, ada baiknya mencari tahu penyebabnya.

Menurut Capanna-Hodge, langkah awal yang bisa dilakukan adalah meminta bantuan dalam hal-hal kecil. Cara ini dapat membantu Bunda belajar merasa nyaman menerima dukungan sekaligus mengenali emosi yang muncul saat tidak harus mengandalkan diri sendiri.

Nah, itulah ciri orang dengan hyper-independent dan cara mengatasinya. Semoga bermanfaat, ya, Bunda. 

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)