Jakarta -
Hutan kota bukan sekadar ruang hijau untuk bersantai. Penelitian terbaru di Korea Selatan menunjukkan kawasan berhutan di perkotaan bekerja layaknya pendingin udara alami, mampu menurunkan suhu hingga hampir 2 derajat Celsius saat gelombang panas melanda.
Temuan ini berasal dari studi yang dilakukan National Institute of Forest Science (NIFoS). Peneliti mengukur suhu udara selama satu tahun di 17 lokasi hutan kota di Seoul dan membandingkannya dengan kawasan perkotaan yang dipenuhi beton serta aspal.
Hasilnya, hutan kota mampu menjaga suhu malam hari 1,3 hingga 1,6 derajat Celsius lebih rendah dibanding pusat kota yang padat bangunan. Pada siang hari, beberapa kawasan berhutan bahkan mencatat efek pendinginan hingga sekitar 1,8 hingga 1,9 derajat Celsius.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hutan kota merupakan infrastruktur hijau yang sangat penting untuk melindungi masyarakat dari gelombang panas ekstrem. Hutan berdaun lebar bertingkat dan hutan campuran menunjukkan kemampuan pendinginan yang sangat baik," kata peneliti Urban Forest Research Center NIFoS, Choi Su-min, dikutip dari The Korea Times, Jumat (31/7/2026).
Menurut para peneliti, perbedaan suhu itu terjadi karena pepohonan bekerja dengan dua cara sekaligus. Tajuk pohon menghalangi sinar Matahari langsung, sementara proses penguapan air dari daun (evapotranspiration) membantu menyerap panas dari udara.
Sebaliknya, permukaan beton dan aspal menyimpan panas sepanjang siang, lalu melepaskannya kembali pada malam hari. Akibatnya, suhu di pusat kota tetap tinggi bahkan setelah matahari terbenam. Fenomena ini sangat penting saat terjadi malam tropis, yaitu kondisi ketika suhu malam tidak turun ke tingkat yang nyaman sehingga tubuh sulit melepaskan panas.
"Berbeda dengan aspal dan beton yang menyimpan panas pada siang hari lalu memancarkannya kembali pada malam hari, ekosistem hutan melepaskan jauh lebih sedikit energi panas yang tersimpan sehingga membantu mengatur iklim mikro perkotaan sepanjang waktu," tulis kata Choi Su-min.
Penelitian juga menemukan tidak semua ruang hijau memberikan efek pendinginan yang sama. Hutan campuran dan hutan berdaun lebar dengan vegetasi bertingkat terbukti paling efektif dibanding ruang terbuka yang hanya ditumbuhi rumput atau pepohonan yang jarang.
Karena itu, para peneliti menyarankan agar pemerintah tidak hanya memperbanyak ruang hijau, tetapi juga memperhatikan jenis vegetasi yang ditanam ketika membangun taman kota dan kawasan hijau baru.
"Ke depan, para perencana kota perlu secara aktif menerapkan struktur vegetasi seperti ini saat merancang taman kota dan ruang hijau," ujar Choi Su-min.
Temuan ini memperkuat bukti bahwa pepohonan merupakan salah satu solusi berbasis alam (nature-based solutions) yang efektif untuk membantu kota beradaptasi dengan gelombang panas yang makin sering terjadi akibat perubahan iklim.
(rns/fay)
TAGSLIHAT LAINNYA