REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (Perdokhi) terus mendorong penguatan pembinaan kesehatan calon jamaah haji melalui pendekatan yang lebih komprehensif. Salah satunya dengan mengembangkan Klinik Terpadu Kesehatan Haji dan Umrah (KTKHU), yang tidak hanya mempersiapkan jamaah agar layak terbang (fit to fly), tetapi juga mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji secara optimal (fit to Hajj).

Upaya tersebut akan diperkuat melalui "Workshop Bimbingan Teknis Klinik Terpadu Kesehatan Haji dan Umrah (KTKHU)" yang digelar pada 6 September 2026 di Auditorium Universitas YARSI, Jakarta, secara luring dan daring.

Ketua Umum Perdokhi, dr Syarief Hasan Lutfie mengatakan, Klinik Terpadu Kesehatan Haji dan Umrah merupakan model pembinaan kesehatan yang mengintegrasikan berbagai aspek pelayanan sehingga calon jamaah memperoleh pendampingan secara berkesinambungan.

"Klinik Terpadu Kesehatan Haji dan Umrah merupakan model pembinaan kesehatan yang mengintegrasikan aspek medis, kebugaran, rehabilitasi, edukasi kesehatan, serta pembinaan ibadah secara berkesinambungan," ujar dr Syarief kepada Republika, Rabu(5/8/2026).

Menurut dia, pendekatan tersebut dirancang lebih personal dengan menyesuaikan kondisi kesehatan masing-masing calon jamaah. Dengan demikian, pembinaan tidak hanya bertujuan agar jamaah sehat saat berangkat ke Tanah Suci, tetapi juga siap menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji.

"Melalui pendekatan yang lebih personal dan berbasis kebutuhan jamaah, kami ingin memastikan setiap calon jamaah tidak hanya sehat untuk berangkat (fit to fly), tetapi juga benar-benar siap menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji secara aman, mandiri, dan optimal (fit to Hajj),”kata dia.

KTKHU dikembangkan sebagai model pelayanan yang mengintegrasikan pembinaan istitha'ah kesehatan atau kemampuan fisik (badaniah), pengendalian penyakit kronis, peningkatan kebugaran, rehabilitasi medik, edukasi kesehatan, hingga pembinaan ibadah sesuai kondisi klinis dan kapasitas fungsional setiap jamaah.