Bandarlampung (ANTARA) - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan bahwa serapan gabah secara nasional telah mencapai 91 persen dari target 4 juta ton gabah.

"Serapan gabah kita secara nasional sudah mencapai 91 persen dari 4 juta ton, atau memiliki jumlah sekitar 3,6 juta ton," ujar Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani di Lampung Tengah, Rabu.

Ia mengatakan dengan capaian serapan gabah nasional tersebut, menunjukkan adanya kerja sama lintas sektor yang baik.

"Ini menunjukkan bahwa serapan gabah luar biasa, sebab baru sampai Agustus dan masih ada empat bulan sampai akhir tahun tapi persentasenya sudah mencapai 91 persen. Namun petani tidak perlu takut, nanti walaupun sudah mencapai 100 persen atau 4 juta ton sesuai perintah Presiden dan Menteri Pertanian, Bulog tetap menyerap hasil panen petani," katanya.

Menurut dia, Bulog akan terus memaksimalkan serapan gabah di tingkat petani di berbagai wilayah, meski adanya musim kemarau.

"Adanya musim kemarau ini sebenarnya akan lebih mudah dalam melakukan pengeringan gabah, tanpa perlu dryer. Hanya satu kendalanya mungkin perlu ada kendaraan khusus untuk daerah terpencil seperti menggunakan motor agar lebih cepat," ucap dia.

Baca juga: Serapan Bulog dinilai kunci jaga harga gabah saat beras surplus

Baca juga: Dirut Bulog pastikan stok pangan NTT aman dukung pemulihan pascagempa

Ia mengatakan selain melakukan penyerapan, pihaknya juga siap dalam menjalankan penugasan pemerintah, melaksanakan proses penyaluran dari penyiapan stok di gudang sampai diterima oleh penerima manfaat.

"Pemerintah memastikan pangan tidak hanya tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi juga semakin dekat, mudah diakses, dan terjangkau oleh masyarakat. Kami berkomitmen menjalankan setiap penugasan pemerintah secara optimal, sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan serta stabilitas pasokan dan harga pangan nasional," tambahnya.

Sebelumnya Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian menilai kapasitas penyerapan Perum Bulog menjadi salah satu faktor utama untuk menjaga harga gabah di tingkat petani ketika produksi beras surplus.

Berdasarkan proyeksi neraca pangan Kementerian Pertanian, produksi beras pada 2026 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton, sehingga terdapat surplus sekitar 3,67 juta ton.

Eliza menjelaskan surplus produksi beras berpotensi menekan harga gabah apabila tambahan pasokan tidak terserap oleh pasar. Kondisi tersebut terutama perlu diantisipasi saat panen raya ketika produksi gabah meningkat dalam waktu yang relatif bersamaan.

Namun, Eliza menilai harga gabah petani saat ini masih relatif terjaga karena didukung penyerapan Bulog yang cukup agresif. Selain itu, produksi pada musim panen kedua, menurut dia, umumnya tidak sebanyak panen raya.

Baca juga: Serapan gabah Bulog Sumut meningkat karena masuk masa panen

Baca juga: Dirut Bulog sebut ekspor beras premium ke Malaysia hadiah HUT Ke-81 RI

Pewarta: Ruth Intan Sozometa Kanafi
Uploader : Ariyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.