REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Taspen (Persero) berkomitmen untuk mendorong tingkat literasi dan inklusi dana pensiun di Indonesia melalui berbagai upaya sosialisasi dan edukasi. Salah satunya adalah lewat inisiasi menggelar Bulan Dana Pensiun yang resmi dibuka melalui kick-off pada Ahad (6/9/2026) bersama sejumlah pemangku kepentingan (stakeholder).
“Kick-off Bulan Dana Pensiun 2026 menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya Bulan Dana Pensiun hadir sebagai gerakan kolaboratif untuk meningkatkan literasi, inklusi, dan kepesertaan dana pensiun dengan mengusung tema ‘Muda Berkarya, Tua Bahagia,” kata Direktur Operasional PT Taspen (Persero) Tribuna Phitera Djaja dalam Kick-off Bulan Dana Pensiun di kawasan Car Free Day (CFD), Jakarta, Ahad (6/9/2026).
Tribuna menerangkan, gelaran tersebut bertujuan mengajak masyarakat untuk mempersiapkan masa pensiunnya sejak dini melalui berbagai kegiatan edukatif dan inspiratif. Sehingga diharapkan, dengan persiapan dana pensiun yang sedini mungkin, ketahanan finansial masyarakat bisa lebih terjaga di kemudian hari.
“Sejalan dengan hal tersebut, Taspen sebagai perusahaan asuransi sosial bagi ASN (Aparatur Sipil Negara) berkomitmen untuk terus meningkatkan awareness dan mendorong kesiapan pensiun sejak dini, khusus bagi ASN menuju masa pensiun yang sejahtera,” terangnya.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyampaikan, Bulan Dana Pensiun 2026 penting untuk digelar, mengingat OJK merupakan regulator yang mengawasi sektor dana pensiun, sekaligus punya amanah dalam mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan.
“Kami membuat survei tentang literasi dan inklusi keuangan masing-masing sektor. Secara nasional, literasi keuangan sudah 69 persen, artinya dari 100 orang yang ditanya, 70 persen sudah mengerti. Inklusinya malah lebih besar lagi, yakni 93 persen. Tetapi khusus untuk dana pensiun, angkanya masih kecil, literasinya masih 22 persen, kemudian inklusinya juga jauh di bawah. Ini PR kita bagaimana meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun,” ungkapnya.
Friderica atau kerap disapa Kiki optimistis bahwa masyarakat sebenarnya sudah mulai banyak yang sadar tentang pentingnya menyiapkan dana pensiun. Namun, eksplorasi dari pengetahuan menjadi pemanfaatan atau penggunaan produk dana pensiun masih perlu digenjot. Terlebih lagi, menurutnya yang terpenting adalah menciptakan resiliensi finansial dari pemanfaatan dana pensiun.
“Kalau orang bilang dari financial literacy kepada financial inclusion, tetapi yang utama juga bagaimana dari financial inclusion itu menjadi financial resilience, artinya ketahanan kita, bagaimana ketika kita semua tua setelah memasuki masa pensiun, kita punya cukup dana tabungan, passive income, dan lain-lain yang bisa memastikan hidup kita nyaman sampai selamanya,” tuturnya.
Menurut catatan OJK, sektor dana pensiun mencatatkan tren yang cukup positif. Dana kelola dana pensiun tercatat berada di sekitar Rp 1.669 triliun. Meski cukup tinggi, Kiki menekankan pentingnya upaya meningkatkan jumlah kepesertaan, sehingga pangsanya makin luas.
“Tentunya PR-nya adalah enggak cuma membesarkan dana kelola dana pensiun, tetapi meningkatkan kepesertaannya, apalagi sekarang banyak masyarakat kita lebih memilih enggak jadi pegawai, banyak pekerja mandiri. Ini jadi PR kita bersama untuk meningkatkan bagaimana pengelolaan dana pensiun semakin besar,” terangnya.