Surabaya (ANTARA) - Penulis Trio Marpaung dan Syani meluncurkan buku Nyanyian Bawah Tanah untuk mendokumentasikan pengalaman aktivisme menjelang Reformasi 1998 sekaligus menghadirkan ruang refleksi sejarah kebangsaan bagi masyarakat
“Babak pertama kami memakai metode in medias res. Kami sengaja menempatkan kisah kami di depan,” kata penulis buku Trio Marpaung saat bedah buku di Pendopo Cak Durasim Surabaya, Jumat.
Buku karya Trio Marpaung dan Syani itu dibedah dalam acara Grand Launching & Bedah Buku Nyanyian Bawah Tanah yang dihadiri pegiat literasi, akademisi, dan komunitas aktivis.
Trio menjelaskan buku tersebut dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama memuat pengalaman langsung para penyintas, termasuk penangkapan dan pemeriksaan yang mereka alami.
Bagian kedua mengulas latar belakang gerakan mahasiswa, Partai Rakyat Demokratik, serta peristiwa 27 Juli 1996 atau Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli). Adapun bagian ketiga menawarkan gagasan rekonsiliasi antara negara dan para korban.
“Kami menawarkan langkah alternatif, jalan alternatif untuk rekonsiliasi bermakna antara negara dengan pihak korban,” ujarnya.
Menurut Trio, pengalaman masa lalu tidak seharusnya berhenti pada dendam. Ia menilai rekonsiliasi memerlukan keberanian untuk membuka kembali sejarah dan mengakui pengalaman para korban.
Kami sudah selesai dengan diri kami. Saya sudah memaafkan. Ayo kita jalan, kita bicarakan kepada masyarakat, kita rekonsiliasi. Kita selesaikan sejarah negara ini,” katanya.
Sementara itu, Syani mengisahkan pengalamannya sebagai bagian dari kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi sejak sekolah. Pengalaman tersebut kemudian membawanya mengenal gerakan mahasiswa dan aktivisme.
“Saya tidak pernah dicina-cinakan. Saya tidak pernah dianggap sipit. Saya tidak pernah dianggap berbeda oleh mereka,” ujar Syani.
Ia menilai pengalaman diskriminasi tersebut justru memperkuat kepeduliannya terhadap persoalan kemanusiaan dan perlakuan yang setara.
Dalam kesempatan itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jawa Timur Eddy Supriyanto yang mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan apresiasi atas penerbitan buku tersebut. Ia menilai dokumentasi pengalaman aktivis penting untuk menjaga ingatan kolektif bangsa.
“Penulisan buku ini salah satu upaya dari para aktivis atau yang dulu pernah mengalami dan menjadi korban pada waktu itu untuk mengingatkan kepada masyarakat, terutama para aktivis, bahwa mereka masih eksis dan tidak boleh lupa dengan perjuangan mereka,” kata Eddy.
Menurut Eddy, dokumentasi sejarah penting karena gerakan mahasiswa tidak hanya berlangsung di Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah. Ia berharap pengalaman masa lalu dapat menjadi pembelajaran dalam memperkuat kehidupan berbangsa, demokrasi, dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Jawa Timur.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.