Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arief Satria menyebut teknologi adsorbed natural gas (ANG) yang dikembangkan lembaga tersebut berpotensi menghemat beban subsidi LPG hingga sekitar Rp26 triliun per tahun.

"Berdasarkan perhitungan awal, teknologi ini mampu berpotensi menghemat hingga sekitar Rp26 triliun per tahun terhadap beban subsidi LPG," ujar Arif dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto bersama 150 peneliti BRIN di halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis.

Usai pertemuan, Arif memaparkan teknologi ANG merupakan salah satu inovasi strategis BRIN di bidang energi yang dikembangkan melalui kerja sama sister lab dengan peraih Nobel Kimia 2025 Susumu Kitagawa.

Inovasi tersebut memungkinkan gas alam terkompresi (compressed natural gas/CNG) memiliki kapasitas penyimpanan yang lebih besar dibandingkan teknologi konvensional.

"Jadi, CNG sebagai gas alam Indonesia ini sangat melimpah, namun pada saat yang sama kita tergantung pada LPG. Selama ini, impor LPG sangat besar," kata Arif.

Menurut dia, dengan teknologi ANG, tabung gas berukuran setara LPG 3 kilogram dapat digunakan lebih lama karena memiliki daya simpan gas yang lebih besar.

"Dengan metal organic framework, kita bisa sekarang ini menghasilkan satu terobosan penting yaitu bagaimana menghasilkan ANG, adsorbed natural gas ya, dari CNG dengan tekanan 30 bar dan kemudian memiliki daya simpan volume yang lebih besar," kata Arif.

Ia melanjutkan "kalau orang saat ini menggunakan LPG misalnya 3 kilogram menghasilkan waktu 10 hari, sekarang dengan teknologi baru bisa 15 hari, satu setengah kali. Nah sekarang riset terus kita lakukan agar bisa dua kali lipat. Kalau ini diterapkan maka bisa menghemat Rp26 triliun per tahun terkait dengan energi ini." 

Arif mengatakan Presiden Prabowo juga meminta agar implementasi teknologi ANG dapat dipercepat. Menurut dia, teknologi tersebut tidak hanya berpotensi menghemat devisa akibat impor LPG, tetapi juga meningkatkan ketahanan energi nasional dengan memanfaatkan cadangan gas alam domestik yang melimpah.

"Pak Presiden sangat berpesan kalau bisa dipercepat untuk implementasi pemanfaatan ANG dengan teknologi baru ini. Karena ini satu hemat devisa, tapi yang kedua lebih penting lagi adalah memiliki simpanan gas yang lebih besar untuk ukuran yang sama," katanya.

Saat ini, pengembangan masih berada pada tahap uji coba. Arif menargetkan uji coba dapat rampung pada 2026 sehingga teknologi tersebut dapat mulai diperkenalkan pada 2027 sebagai salah satu alternatif pengganti penggunaan LPG impor.

"Yang jelas di kami ini kami sedang uji coba ya yang tahun 2026 uji coba, moga-moga 2027 bisa kita rilis," ucap Arif.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BRIN sebut teknologi ANG dapat hemat subsidi LPG hingga Rp26 triliun

Pewarta: Fathur Rochman
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.