BPS: Sumsel alami inflasi 0,21 persen pada September 2026 didorong komoditas pangan
Jumat, 2 Oktober 2026 10:15 WIB
Ilustrasi - Pedagang memilah cabai merah yang dijualnya di pasar 26 Ilir Palembang, Sumsel, Rabu (10/6/2021). (ANTARA)
Palembang (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Sumatera Selatan mengalami inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada September 2026 yang terutama didorong kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.
Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto di Palembang, Kamis, mengatakan inflasi September 2026 turut dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi bulanan Sumsel dengan andil sebesar 0,20 persen dan tingkat inflasi kelompok mencapai 0,65 persen.
"Lima komoditas utama yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan yakni beras, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras dan pisang," katanya.
Selain kelompok makanan, minuman dan tembakau, sejumlah kelompok pengeluaran juga memberikan andil terhadap inflasi September.
Kelompok transportasi memberikan andil sebesar 0,02 persen dengan tingkat inflasi 0,14 persen. Kemudian kelompok pendidikan memberikan andil 0,01 persen dengan tingkat inflasi 0,17 persen.
Sementara kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil 0,01 persen dengan tingkat inflasi 0,05 persen.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi sebesar 0,31 persen dengan andil deflasi 0,03 persen.
Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan juga mengalami deflasi sebesar 0,01 persen pada September 2026.
Secara tahunan (year on year/yoy), BPS mencatat Sumatera Selatan mengalami inflasi sebesar 2,55 persen pada September 2026.
Lima komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan tersebut yakni emas perhiasan, beras, daging ayam ras, bensin dan minyak goreng.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 6,90 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,58 persen.
Sementara kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan sebesar 0,90 persen dengan tingkat inflasi kelompok mencapai 2,89 persen.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang berikutnya dengan andil sebesar 0,46 persen dan tingkat inflasi sebesar 3,56 persen.
Pewarta: Ahmad Rafli Baiduri
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026