Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa tenaga kerja Indonesia masih didominasi oleh pekerja berpendidikan rendah. Hingga Mei 2026, hanya 13,18% dari total penduduk bekerja yang merupakan lulusan perguruan tinggi.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud mengatakan, mayoritas dari total 148,19 juta penduduk yang bekerja pada Mei 2026 berasal dari kelompok berpendidikan SD ke bawah.

"Sementara itu, 35,40% penduduk yang bekerja memiliki pendidikan SD ke bawah dan masih mendominasi struktur penduduk bekerja di Indonesia,” kata Edy dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8).

Meski demikian, BPS mencatat adanya perbaikan kualitas pendidikan tenaga kerja dibandingkan Februari 2026. Proporsi pekerja yang berpendidikan SMA, SMK, hingga diploma ke atas mengalami peningkatan.

Secara keseluruhan, jumlah penduduk yang bekerja pada Mei 2026 mencapai 148,19 juta orang, bertambah sekitar 522 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Sementara itu, jumlah pengangguran turun 24 ribu orang menjadi 7,22 juta orang.

Penurunan tersebut membuat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun tipis menjadi 4,65% dari sebelumnya 4,68% pada Februari 2026.

Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 28,75% terhadap total pekerja. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 17,80%, serta industri pengolahan sebesar 13,53%.

Adapun sektor yang mencatat penambahan tenaga kerja terbesar selama Februari hingga Mei 2026 adalah akomodasi dan makan minum dengan tambahan 195 ribu pekerja. Kemudian disusul sektor transportasi dan penyimpanan sebanyak 121 ribu pekerja serta aktivitas jasa lainnya sebanyak 110 ribu pekerja.

BPS juga melaporkan proporsi pekerja formal meningkat tipis menjadi 40,70% pada Mei 2026, dibandingkan 40,58% pada Februari 2026. Jumlah pekerja formal tercatat mencapai 60,31 juta orang. Di sisi lain, pekerja informal masih mendominasi pasar tenaga kerja dengan porsi 59,30% atau sekitar 87,88 juta orang.