BPN PKK: Pelayanan gereja jadi ruang membentuk karakter generasi muda
Sabtu, 10 Oktober 2026 13:05 WIB
Kegiatan 50 tahun Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik (BPN PKK) di Jakarta, Sabtu (10/10/2026). ANTARA/Mecca Yumna (Mecca Yumna)
Jakarta (ANTARA) - Badan Pelayanan Nasional Pembaruan Karismatik Katolik (BPN PKK) Indonesia mengatakan pelayanan gereja menjadi ruang untuk belajar membangun karakter, menghadapi proses, menerima kegagalan, dan mengembangkan kepemimpinan generasi muda di tengah budaya serba instan.
Koordinator Kepemudaan BPN PKK Indonesia Bonaventura Feduoti Wisanggeni mengatakan di Jakarta, Sabtu, bahwa upaya mengajak generasi muda kembali aktif dalam kehidupan gereja melalui komunitas dan pelayanan ternyata membawa dampak yang luas.
"Pelayanan di gereja ternyata menjadi sekolah kehidupan bagi anak muda. Di sana mereka belajar menjadi pribadi yang jujur, berintegritas, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama. Nilai-nilai yang mereka pelajari tidak berhenti di lingkungan gereja, tetapi juga dibawa ke dunia kerja, kehidupan profesional, dan masyarakat," ujar Aven.
Melalui berbagai program pembinaan, termasuk seminar rohani, pendampingan komunitas, serta kesempatan menjadi pewarta dan pengajar, anak muda mendapatkan ruang untuk belajar sekaligus mengambil tanggung jawab.
Dalam peringatan 50 tahun Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik (PKK) di Indonesia, kata dia, pihaknya ingin memperlihatkan bahwa keterlibatan anak muda dalam kehidupan beragama tidak hanya berdampak pada pertumbuhan iman, tetapi juga menjadi proses pembentukan karakter yang bermanfaat dalam kehidupan profesional dan masyarakat.
Pengalaman tersebut tercermin dalam perjalanan Angeline Vania (29), seorang anak muda Katolik yang telah aktif dalam komunitas dan pelayanan selama sekitar 10 tahun.
Keterlibatan Vania bermula ketika ia merantau untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Saat itu, dia membutuhkan lingkungan pertemanan yang dapat mendukungnya beradaptasi sekaligus bertumbuh secara pribadi. Melalui komunitas mahasiswa Katolik, Vania kemudian memperoleh pendampingan dan mulai dipercaya memimpin berbagai kegiatan, termasuk retret mahasiswa.
"Dalam pelayanan, saya belajar bahwa tidak semua hal bisa dicapai secara instan. Ada proses yang harus dijalani, ada perbedaan pendapat, bahkan kegagalan. Justru melalui pengalaman itu saya belajar untuk tidak mudah menyerah dan mengandalkan kekuatan dari Tuhan. Pelajaran ini juga saya bawa ke dunia kerja," katanya.
Sementara itu, Romo Moderator BPN PKK Indonesia, RD. Yustinus Hilman Pujiatmoko, memandang perjalanan 50 tahun ini sebagai kesempatan untuk memperkuat kesinambungan pembinaan dan pelayanan antargenerasi.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, katanya, orang muda diharapkan tidak hanya menjadi peserta kegiatan keagamaan, tetapi juga semakin berani mengambil tanggung jawab, menjadi pemimpin, dan menghidupi nilai-nilai iman dalam kehidupan sehari-hari.
Uskup Delegatus Penasihat Episkopal BPN PKK Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga menekankan bahwa hasil perjalanan panjang gerakan ini tidak pertama-tama diukur dari pencapaian fisik atau perkembangan organisasinya, melainkan dari perubahan kehidupan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Dia juga mengingatkan pentingnya menerjemahkan pengalaman iman menjadi panggilan untuk melayani sesama, khususnya mereka yang miskin dan membutuhkan perhatian.
Pewarta : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026