Jakarta -

Bos AirAsia, Tony Fernandes, buka suara soal kondisi keuangan maskapai berbiaya rendah itu. Hal ini terjadi usai pemberitaan bahwa keuangan maskapai murah itu diawasi pemerintah Malaysia, di mana Malaysia Airlines dan Batik Air diminta mengambil alih pangsa pasar domestik AirAsia.

Mengutip Reuters, ia mengatakan tantangan yang dihadapi maskapai berbiaya hemat tersebut akibat lonjakan biaya bahan bakar pesawat "jauh lebih ringan" dibandingkan tantangan selama pandemi COVID-19. Ia berusaha meyakinkan investor mengenai kesehatan keuangan maskapai.

Dalam sebuah pernyataan pers di media, Fernandes juga menyatakan bahwa AirAsia memiliki likuiditas yang kuat dan piawai dalam mengelola arus kas. Ia menambahkan bahwa krisis saat ini sebagian besar dipicu oleh ketegangan geopolitik dan kenaikan harga bahan bakar sementara permintaan perjalanan tetap tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengakui bahwa kuartal kedua (Q2) merupakan masa tersulit bagi maskapai yang menguasai sekitar 60% pasar domestik Malaysia tersebut. Namun memprediksi kondisi akan membaik seiring langkah AirAsia menyesuaikan tarif tiket untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar.

Fernandes mengatakan bahwa tingkat keterisian kursi (load factor) grup, yang mengukur seberapa efektif maskapai mengisi kursi yang tersediaan, sudah mencapai 80% pada kuartal ketiga (Q3). Pihaknya yakin akan melihat adanya pemesanan yang kuat untuk kuartal keempat (Q4).

Di kesempatan yang sama, Fernandes juga menegaskan bahwa tidak ada yang bisa menggantikan 100 pesawat milik AirAsia di negara tersebut dalam waktu singkat. Ia pun optimis terhadap operasional di Indonesia, Filipina, dan Thailand.

Perlu diketahui, liabilitas lancar AirAsia tercatat sebesar 18,4 miliar ringgit (sekitar Rp 80,04 triliun) per 30 Juni. Saldo kas dan bank sebesar 954 juta ringgit (Rp 4,148 triliun).

Maskapai ini terdampak oleh lonjakan biaya bahan bakar pesawat yang dipicu oleh konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Di mana harga bahan bakar melonjak 66% pada Q2 dibandingkan kuartal sebelumnya, mencapai rata-rata US$183 per barel (Rp3,22 juta per barel).

Kenaikan biaya bahan bakar pesawat dan kerugian kurs mata uang asing yang cukup besar, yakni 331 juta ringgit (Rp 1,43 triliun). AirAsia mencatat kerugian bersih sebesar 831 juta ringgit (Rp 3,599 triliun) untuk Q2 yang berakhir pada 30 Juni.

Sebelumnya dikabarkan pemerintah Malaysia menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi tekanan keuangan AirAsia, salah satunya menjajaki kesiapan Malaysia Airlines dan Batik Air mengambil sebagian rute domestik jika diperlukan.

AirAsia berperan besar dalam industri penerbangan Malaysia. Maskapai berbiaya rendah itu menguasai sekitar 40% pasar penerbangan Malaysia secara keseluruhan, bahkan tembus 60% untuk penerbangan domestik.

Pemerintah Malaysia dikabarkan telah bertanya kepada Malaysia Airlines dan Batik Air apakah mereka mampu mengambil alih sebagian rute dan penumpang AirAsia jika diperlukan, namun pembahasan tersebut masih sebatas langkah antisipasi pemerintah. Belum ada keputusan bahwa operasional maupun bisnis AirAsia akan diambil alih oleh kedua maskapai tersebut.

Malaysia Airlines dan Batik Air disebut bersedia memperbesar operasinya secara bertahap untuk menampung rute serta penumpang AirAsia jika diperlukan. Keduanya tidak memilih mengambil alih seluruh bisnis AirAsia.

Artikel ini sudah tayang di CNBC Indonesia.

(ddn/ddn)