Guncangan gempa utama sendiri cukup kuat. Alat BMKG di Stasiun Meteorologi Ruteng dan Lanke Rembong, Manggarai, sempat merekam tingkat guncangan hingga VIII MMI.

Setelah dilakukan verifikasi, tingkat guncangan di sejumlah wilayah tercatat sekitar VII MMI. Faisal meminta warga menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa.

“Perlu dihindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa bumi,” ujar Faisal.

BMKG juga akan melakukan survei di sejumlah wilayah terdampak. Survei dijadwalkan dilakukan di Ngada, Nagekeo, Labuan Bajo dan Selayar. Survei tersebut untuk mengetahui mekanisme gempa, kondisi tanah dan tingkat amplifikasi. Kondisi bangunan yang rusak juga akan diperiksa.

“Survei yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui bagaimana mekanisme gempa ya, makroseismiknya, mikroseismik, kemudian kita mengetahui jenis tanahnya, amplifikasinya,” terang Faisal.

Hasil pemeriksaan itu akan menjadi dasar rekomendasi kepada pemerintah daerah dan Kementerian Pekerjaan Umum sebelum pembangunan kembali atau perbaikan bangunan dilakukan.

“Ini kami akan melakukan beberapa survei. Survei yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui bagaimana mekanisme gempa, makroseismiknya, mikroseismik, kemudian kita mengetahui jenis tanahnya, amplifikasinya, hingga kemudian kita memberikan rekomendasi segera kepada Pemda ketika akan dilakukan pembangunan kembali maupun akan mere-retrofit atau memperbaiki bangunan-bangunan yang telah rusak,” kata dia.

Informasi hasil survei juga akan diteruskan kepada BNPB sebagai koordinator penanganan bencana. “Jadi info-info tersebut akan kami sampaikan segera kepada pemerintah daerah dan Kementerian Pekerjaan Umum,” ujar Faisal.

Dalam penanganan di lapangan, BMKG akan didukung jaringan 191 kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh Indonesia. Untuk NTT, terdapat 14 titik yang akan mendukung kegiatan survei dan pemantauan.

Faisal mengatakan kantor-kantor BMKG tersebut juga akan mendampingi pemerintah daerah bersama TNI, Polri dan Basarnas selama masa tanggap darurat.

“Nanti pos maupun kantor-kantor BMKG ini akan men-support pelaksanaan survei yang ada di lapangan, dan sekaligus juga mendampingi pemerintah daerah dan TNI, Polri, Basarnas untuk dapat melakukan tindakan-tindakan mitigasi selama tanggap darurat,” kata dia.

Pendampingan akan berlanjut hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi setelah masa tanggap darurat berakhir. “Setelahnya ketika dilakukan pembangunan kembali atau re-rekon,” ujar Faisal.