BMKG Kotim peringatkan potensi gelombang tinggi selama kemarau
Jumat, 17 Juli 2026 22:07 WIB
Dokumentasi - Suasana Pantai Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. ANTARA/Devita Maulina
Sampit (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mengingatkan masyarakat di wilayah pesisir, khususnya nelayan, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi selama musim kemarau.
“Informasi ketinggian gelombang berkisar antara 1 sampai 1,5 meter. Itu kalau dikategorikan untuk kapal nelayan sudah sangat berbahaya,” kata Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo di Sampit, Jumat.
Ia menjelaskan dominasi angin timuran pada musim kemarau menyebabkan tinggi gelombang di perairan meningkat dibandingkan kondisi normal. Fenomena itu diperkirakan berlangsung sejak Juli hingga Oktober sebelum pola angin kembali berubah seiring dengan pergantian musim.
Menurutnya, perubahan arah angin nantinya akan terjadi sekitar Oktober hingga November, kemudian berlanjut mengikuti pola musim hujan hingga sekitar Juni tahun berikutnya. Selama periode angin timuran masih dominan, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas di laut.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk selalu memantau perkembangan cuaca, terutama sebelum beraktivitas di luar. Terlebih, kini informasi terkait kondisi cuaca bisa diakses dengan mudah melalui media sosial maupun laman resmi BMKG Kotim.
Mulyono melanjutkan, peringatan tersebut tidak berarti seluruh aktivitas pelayaran harus dihentikan, melainkan disesuaikan dengan ukuran dan kapasitas kapal yang digunakan karena setiap jenis kapal memiliki batas aman operasional yang berbeda.
Ia menyebutkan, kapal nelayan berukuran kecil menjadi kelompok yang paling rentan terdampak oleh gelombang setinggi 1 hingga 1,5 meter sehingga sebaiknya menunda aktivitas melaut apabila kondisi cuaca tidak mendukung.
“Kalau nelayan itu ada kapal kecil dan kapal besar, jadi kategorinya berbeda tergantung ukuran atau gross tonnage (GT)-nya. Untuk kapal nelayan yang kecil kami imbau jangan berlayar dulu ketika kondisi seperti ini,” ujarnya.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan bahwa tinggi gelombang masih berpotensi meningkat bergantung pada perkembangan kondisi cuaca dan kecepatan angin di wilayah perairan.
Kendati begitu, ia menyampaikan bahwa untuk kapal berukuran besar seperti kapal penumpang yang dioperasikan PT Pelni maupun PT Dharma Lautan Utama (DLU), kondisi gelombang saat ini masih berada dalam batas aman untuk pelayaran.
“Untuk kapal penumpang seperti Pelni atau DLU masih aman karena kapal besar seperti itu umumnya baru mendapat peringatan apabila tinggi gelombang sudah di atas 2 meter,” demikian Mulyono.
Baca juga: Pemkab Kotim catat pertumbuhan ekonomi 5,82 persen pada 2025
Baca juga: TK Aisyiyah 1 Sampit kenalkan cinta lingkungan hidup saat MPLS
Baca juga: Dari kebun ke ruang ilmiah, PT HSL meneguhkan keberlanjutan sawit berbasis riset
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.