Jambi (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam BKSDA Jambi bersama para mitra dalam konsorsium PROTECT30 meninjau langsung perkembangan upaya perlindungan habitat gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus) di Lanskap Bukit Tigapuluh.
"Kunjungan lapangan ini merupakan bagian dari pemantauan pelaksanaan program sekaligus upaya memperkuat koordinasi antarpara pihak dalam menjaga konektivitas habitat dan menekan potensi konflik antara manusia dan gajah," kata Kepala BKSDA Jambi Himawan di Jambi Rabu.
Perlindungan gajah Sumatera tidak bisa dilakukan di satu lokasi atau oleh satu pihak saja, maka perlu melihat habitat dan ruang jelajahnya sebagai satu kesatuan lanskap.
"Melalui kunjungan ini, kami ingin memastikan bahwa kegiatan di lapangan berjalan sesuai kebutuhan konservasi serta didukung dengan koordinasi dan pemantauan yang baik," ujar Himawan.
Data mencatat ada sekitar 600 ribu hektare habitat strategis Lanskap Bukit Tigapuluh yang mencakup wilayah Provinsi Jambi dan Riau merupakan kawasan penting bagi konservasi Gajah Sumatera. Dengan luas sekitar 600.605 hektare dan estimasi populasi 90–120 individu, lanskap ini memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan populasi gajah dan ekosistem pendukungnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan tutupan dan penggunaan lahan mempengaruhi ruang jelajah serta pola pergerakan gajah. Sejak 2022, teridentifikasi sejumlah hambatan pada jalur pergerakan menuju habitat inti, termasuk meningkatnya okupansi lahan dan ditemukannya jerat listrik di beberapa area.
Kondisi itu berpotensi memutus konektivitas antarhabitat dan mempersempit ruang jelajah gajah. Akibatnya, pergerakan gajah ke luar kawasan hutan meningkat dan berpotensi menimbulkan interaksi negatif dengan masyarakat.
PROTECT30 mendorong pengelolaan lanskap berkelanjutan untuk merespons tantangan tersebut, kolaborasi dilakukan melalui inisiatif PROTECT30 atau Promoting Sustainable Landscape Management through Biodiversity Conservation and Forest Positive Action in Bukit Tigapuluh Landscape.
Inisiatif ini dijalankan konsorsium yang terdiri dari APP Group, KKI Warsi, Proforest, dan WWF Indonesia, berkolaborasi dengan BKSDA Jambi, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh, serta pemangku kepentingan lainnya.Ruang lingkup PROTECT30 mencakup perlindungan habitat, peningkatan konektivitas lanskap, penguatan tata kelola, dan pengembangan penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
Program ini juga mendukung penguatan pengelolaan kawasan bernilai konservasi tinggi bagi Gajah Sumatra di Jambi, termasuk wilayah Datuk Gedang. Sejumlah kegiatan mulai diimplementasikan setelah kick-off pada Februari 2026.
Dalam kunjungan ini, BKSDA Jambi dan mitra meninjau penanaman pengayaan pakan gajah di Taman Wisata Alam Buluh Hitam serta dukungan peningkatan ketersediaan pakan bagi gajah binaan BKSDA Jambi.
Chief Sustainability Officer APP Group, Elim Sritaba menegaskan pentingnya kolaborasi multi pihak dan kami percaya bahwa masa depan konservasi bergantung pada kemampuan berbagai pihak untuk bekerja bersama dalam satu lanskap yang sama.
"Melalui PROTECT30 yang sejalan dengan komitmen Regenesis, kami mendukung pendekatan forest-positive yang mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, serta penguatan penghidupan masyarakat," kata Elim.
Ke depan BKSDA Jambi bersama mitra akan terus memperkuat koordinasi, pemantauan lapangan, dan pertukaran data dan diharapkan langkah konservasi yang dilakukan dapat terukur, adaptif, dan memberi manfaat jangka panjang bagi kelestarian ekosistem maupun masyarakat di Lanskap Bukit Tigapuluh.
Pewarta: Nanang Mairiadi
Uploader : Ariyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.