Senin, 3 Agustus 2026 - 23:36 WIB

VIVA – Menjaga kesehatan merupakan amanah berharga dari Allah yang patut kita syukuri. Ketika tubuh terbaring sakit, pengobatan kerap menuntut biaya yang tidak sedikit. 

Baca Juga

Namun di balik ujian fisik tersebut, ada keyakinan bahwa rasa sakit dapat menjadi sarana pemaafan dosa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Benarkah ujian sakit bisa meluruhkan dosa-dosa seorang hamba?

Baca Juga

Melalui tayangan di kanal YouTube Adi Hidayat Official, dijelaskan bahwa Allah menghadirkan pelbagai ujian, termasuk penyakit sebagai undangan agar hamba-Nya kembali mendekat. 

Di kala sakit itulah, manusia biasanya makin tekun berdoa, memohon pertolongan, dan bersimpuh mengharap ampunan-Nya, sehingga rasa sakit tersebut menjelma menjadi jalan peraih ridha dan ampunan Allah SWT.

Baca Juga

“Betapa banyak orang sakit menyebut nama Allah terus mendekat, berdoa, karena itu ampunan diturunkan,” ungkap Ustaz Adi Hidayat pada tayangan YouTube miliknya.

Namun, saat seseorang yang sakit sudah tak lagi mampu menguncapkan istigfar, kondisi ruhnya perlu ditinjau kembali apakah masih terjaga dengan baik atau justru kian melemah. 

Bagaimanapun, hakikat kesehatan tidak hanya bertumpu pada fisik, tetapi juga mencakup kesiapan akal dan kejernihan ruhnya.

“Bukan cuma ruh, mungkin fisik sehat, akal sehat, tapi ruhnya tidak sehat, ini masalah,” ujarnya.

Kesehatan seseorang seutuhnya ditopang oleh tiga hal: fisik yang kuat, pikiran yang jernih, dan jiwa yang bersih. 

Di antara ketiganya, kesehatan ruh menjadi pondasi utama yang memengaruhi kejernihan akal sekaligus daya tahan tubuh.

“Seperti halnya fisik butuh makanan, akal butuh makanan, ruh juga butuh makanan. Karena ruh itu sumbernya dari Allah, hanya Allah yang tahu (makanannya). Allah yang siapkan menunya,” jelas Ustaz Adi Hidayat.

Seperti halnya tubuh dan pikiran, ruh juga membutuhkan asupan agar tetap sehat meski jenis "makanan" yang dibutuhkannya berbeda. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jika fisik dan akal dapat dipenuhi oleh hal-hal umum seperti makanan dan ilmu pengetahuan yang bisa dinikmati siapa saja, maka ruh hanya bisa terisi melalui ibadah. 

Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa akal menjadi tajam karena mendapat asupan pengetahuan, sedangkan tubuh memperoleh tenaga dari makanan fisik yang dikonsumsi manusia tanpa memandang tingkat keimanannya.

Halaman Selanjutnya

“Tetapi (makanan) ruh ini tidak bisa dicari. Allah akan langsung hidangkan menunya, karena sumbernya langsung dari Allah,” tutur UAH.