Mataram (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Barat mengembangkan bawang putih di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, untuk menghasilkan umbi berukuran lebih besar dan memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
Konsultan Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB, Edy Suhardiman, Jumat, mengatakan program tersebut akan dikembangkan mulai 2026 dan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya dengan melibatkan empat kelompok tani di Sembalun.
"2026 sampai seterusnya ini kami akan melakukan demonstration plot (demplot) untuk menghasilkan umbi bawang putih dengan ukuran yang lebih besar dari yang biasa dihasilkan oleh petani untuk kebutuhan konsumsi," katanya.
Ia menyebutkan empat kelompok tani yang terlibat dalam program tersebut, yakni Kelompok Tani Lendang Luar, Pelangi, Gumilang, dan Maju Wangi.
Edy mengatakan pengembangan klaster bawang putih Sembalun memiliki dua tujuan utama. Program tersebut mendukung komoditas unggulan daerah sekaligus membantu menjaga stabilitas harga karena bawang putih menjadi salah satu komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi.
"Tujuan kenapa kita terus mengembangkan klaster bawang putih ini, yang pertama tentunya terkait dengan komoditas unggulan. Kemudian yang kedua, terkait dengan inflasi juga, karena bawang putih salah satu penyumbang inflasi," ujarnya.
Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB, kata dia, menggandeng Universitas Mataram (Unram) dalam pengembangan program tersebut. Pendampingan ke depan tidak lagi berfokus pada penyediaan bibit, tetapi pada teknologi untuk memperbesar ukuran umbi bawang putih lokal agar dapat digunakan sebagai bawang putih konsumsi.
Demplot direncanakan menggunakan lahan sekitar dua hektare. Setiap kelompok tani akan mengelola lahan setengah hektare.
Selain pengembangan teknologi, BI NTB telah menyalurkan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) kepada empat kelompok tani tersebut.
Bantuan antara lain berupa alat dan mesin pertanian (alsintan) yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan budidaya bawang putih.
Edy mengatakan bantuan tersebut bertujuan menekan biaya produksi petani. Sebelum mendapatkan dukungan alsintan, petani harus menyewa alat seperti hand tractor untuk mengolah lahan.
"Biasanya kelompok di sini untuk menggarap tanah pun juga harus menyewa hand tractor. Itu biaya hand tractor satu hektare itu bisa mencapai Rp1,5 juta sampai Rp2 juta. Ini kenapa BI mendukung untuk alsintan tersebut untuk mengurangi biaya usaha tani," katanya.
Salah satu teknologi yang dikembangkan saat itu menggunakan metode penggandaan kromosom. Namun, BI NTB menilai biaya penerapan teknologi tersebut masih terlalu tinggi sehingga perlu dikembangkan melalui teknologi baru.
Manajer BI NTB Rahardian Luthfan Ihtifazhuddin menambahkan pelaksanaan demplot semula direncanakan mulai November 2026.
Namun, hasil diskusi dengan kelompok tani menunjukkan bahwa November bukan waktu yang optimal untuk menanam bawang putih karena memasuki musim penghujan.
Karena itu, kata Rahardian, pelaksanaan demplot akan digeser hingga awal 2027 untuk menyesuaikan dengan musim tanam yang lebih sesuai.
Sambil menunggu pelaksanaan demplot, BI NTB bersama Unram berencana menggelar capacity building sekitar November 2026. Kegiatan tersebut berupa penyuluhan dan pelatihan bagi kelompok tani untuk meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan bawang putih dengan ukuran umbi yang lebih besar.
Ketua Kelompok Tani Lendang Luar, Ruspaini Efendi Sembahulun mengapresiasi dukungan BI NTB terhadap petani bawang putih di Sembalun.
"Kami ucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia yang bisa men-support kami sebagai petani bawang putih dan kelompok di Sembalun," katanya.
Ia mengatakan kelompok tani telah menerima sejumlah alsintan untuk mendukung kegiatan pertanian bawang putih.
"Alhamdulillah, kami sudah menerima beberapa alsintan, alat-alat untuk mendukung usaha pertanian bawang putih ini berupa traktor. Sudah sangat komplit, masing-masing kelompok itu traktor besar dua, kemudian ada traktor kecil, dan yang lain-lain banyak sekali," ujarnya.
Untuk pelaksanaan demplot, petani akan menggunakan benih lokal varietas Sangga Sembalun dan Lumbu Putih. Kedua varietas tersebut telah disiapkan oleh masing-masing kelompok tani.
Secara keseluruhan, empat kelompok tani yang terlibat memiliki luas lahan sekitar 151 hektare. Lahan tersebut menjadi potensi pengembangan klaster bawang putih lokal Sembalun, khususnya untuk meningkatkan ukuran umbi dan memenuhi kebutuhan konsumsi.
Pewarta : Agus Setiawan, Awaluddin
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026