Jakarta, CNN Indonesia --

Human papillomavirus (HPV) kerap dianggap sebagai virus yang hanya berkaitan dengan perempuan, terutama karena hubungannya dengan kanker serviks. Padahal, HPV juga dapat menginfeksi laki-laki dan penularannya bisa terjadi dua arah.

Masalahnya, infeksi HPV sering kali tidak menimbulkan gejala. Seseorang dapat terlihat sehat tanpa mengetahui bahwa dirinya terinfeksi dan tetap berpotensi menularkan virus kepada pasangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika Yudo Irawan mengatakan, HPV memiliki banyak tipe sehingga penyakit yang ditimbulkannya pun beragam.

"Jadi sebenarnya HPV itu sendiri, penyakitnya saja ada banyak. Tentunya cara penularannya pun tidak hanya satu metode atau satu mode saja," kata Yudo kepada CNNIndonesia.com, Kamis (24/9).

Yudo menjelaskan HPV memiliki cara penularan yang berbeda dengan HIV. Menurutnya, HPV juga dapat ditularkan melalui fomites, yakni benda atau lingkungan yang telah terkontaminasi virus. Ia menjelaskan, partikel virus dapat berada di sekitar lingkungan dan berpindah melalui benda yang terkontaminasi.

Meski demikian, keberadaan virus pada benda tidak serta-merta membuat seseorang langsung terinfeksi. Menurut Yudo, diperlukan faktor lain yang memungkinkan virus masuk ke tubuh, misalnya ketika kulit mengalami luka.

"Misalnya imunitas kita lagi rendah, atau kita menggaruk tubuh kita sehingga luka, sehingga virusnya jadi lebih gampang masuk," katanya.

Pilihan Redaksi

  • 400 Ribu Perempuan Indonesia Terancam Kanker Serviks
  • 5 Kebiasaan Sehari-hari Penyebab Kanker Mulut yang Sering Diabaikan
  • Pria Juga Perlu Vaksin HPV, Cegah Infeksi dan Penularan ke Pasangan

Yudo menegaskan, HPV terutama menyerang kulit dan selaput lendir.

"Jadi bukan seperti HIV yang melalui cairan ketika bersenggama, atau melalui darah. Tidak, HPV itu justru dia melalui kontak, ketemu kontak, atau kontak ketemu barang-barang," jelasnya.

Pria dan wanita sama-sama bisa terinfeksi

Menurut Yudo, dalam konteks kanker serviks, pria memang dapat berperan sebagai pembawa atau carrier HPV kepada pasangan perempuan.

"Bahwasannya kita untuk yang para laki-laki itu lebih sering berperan sebagai carrier HPV atau penggawakan HPV ya," kata Yudo.

Ia menjelaskan, ketika membicarakan kanker serviks, perempuan yang memiliki leher rahim merupakan pihak yang dapat mengalami kanker tersebut. Infeksi HPV yang menetap menjadi faktor utama dalam proses terjadinya kanker serviks.

Menurut Yudo, pasangan laki-laki dapat menjadi salah satu sumber HPV yang kemudian menginfeksi pasangannya.

"Siapa yang membawa sampai ke situ? Ya tentunya adalah kebanyakan pasangannya sendiri dan pasangannya ini adalah si laki-lakinya," ujarnya.

Meski begitu, hal ini bukan berarti HPV hanya bergerak dari laki-laki ke perempuan. Penularan HPV bisa terjadi dua arah.

"Laki-laki menyebarkan ke perempuan iya, perempuan menyebarkan ke laki-laki iya," katanya.

Salah satu masalah HPV adalah infeksinya sering tidak menunjukkan gejala. Karena tidak ada keluhan, seseorang bisa tidak mengetahui bahwa dirinya membawa HPV. Yudo juga mengatakan laki-laki dapat menjadi carrier tanpa langsung mengalami kutil atau penyakit akibat HPV.

"Tapi kembali lagi tetap tidak menunjukkan bahwa laki-laki itu bebas dari HPV atau kalaupun dia kena HPV dia hanya pembawa saja. Tidak," kata Yudo.

Ia menjelaskan laki-laki tetap dapat mengalami penyakit akibat HPV. Infeksi tersebut juga dapat bertahan sebelum tubuh mengendalikannya.

"Jadi kalau misalnya dia kena sekarang belum tentu bulan depan, minggu depan, tahun depan itu dia sudah keluar itu kutilnya atau keganasannya," ujarnya.

Bagaimana gejala HPV pada pria dan wanita?

HPV vaccine glass bottle and syringe on pink background.Ilustrasi. Infeksi HPV tak selalu menimbulkan gejala pada awal. (Stockphoto/solidcolours)

Tidak ada satu gejala khas yang selalu muncul ketika seseorang terkena HPV. Sebagian besar infeksi bahkan tidak menimbulkan gejala. Gejala biasanya baru terlihat ketika infeksi menyebabkan kondisi tertentu, misalnya kutil kelamin.

Pada pria, kutil dapat muncul di area penis, skrotum, sekitar anus, atau area genital lainnya. Kutil dapat berbentuk benjolan kecil, berkelompok, datar, menonjol, hingga menyerupai kembang kol.

Pada wanita, kutil kelamin juga dapat muncul di area genital atau anus. Sementara itu, infeksi HPV risiko tinggi pada leher rahim biasanya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.

Inilah salah satu alasan skrining kanker serviks tetap penting karena perubahan sel prakanker dapat berlangsung tanpa keluhan. WHO menyebut perubahan prakanker pada leher rahim umumnya tidak menimbulkan gejala.

Jadi, perbedaan yang paling penting bukan sekadar 'pria mengalami gejala A, wanita mengalami gejala B'. Keduanya bisa sama-sama tidak bergejala.

Kapan harus periksa?

Karena sebagian besar infeksi HPV tidak menimbulkan gejala, munculnya kutil bukan satu-satunya alasan untuk memeriksakan diri.

Pemeriksaan perlu dipertimbangkan ketika muncul benjolan, kutil, pertumbuhan yang tidak biasa, atau luka di area genital, anus, mulut, maupun tenggorokan. CDC juga menyarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika menemukan kutil, pertumbuhan yang tidak biasa, benjolan, atau luka di area tersebut.

Pemeriksaan juga penting bagi orang yang memiliki kekhawatiran setelah paparan seksual. Pada wanita, skrining kanker serviks menjadi bagian penting dari pencegahan karena perubahan prakanker dapat berlangsung tanpa gejala.

(anm/asr)