Jakarta -

Air zamzam dipercaya punya banyak manfaat kesehatan, bahkan disebut bebas bakteri hingga bisa meredakan kolenstrol. Profesor UI mengungkap fakta ilmiah di balik klaimnya.

Air zamzam bersumber dari sumur yang berada di kawasan Masjidil Haram, dekat Ka'bah, Mekah, Arab Saudi. Air ini memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam dan dikenal karena kandungan mineralnya.

Sejumlah penelitian mengkaji kualitas serta komposisi air zamzam. Air ini mengandung berbagai mineral, seperti kalsium, magnesium, kalium, natrium, dan klorida. Beberapa di antaranya ditemukan dalam kadar yang lebih tinggi dibandingkan air minum biasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akan tetapi, klaim soal keistimewaan air zamzam kembali ramai dibahas, mulai dari bebas bakteri, menyembuhkan kanker, hingga setetes zamzam yang disebut bisa mengubah segalon air biasa menjadi zamzam.

Hal ini juga dibahas oleh Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc, yang merupakan Guru Besar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI).

Ia aktif memberikan konten edukasi di akun YouTube, TikTok dan Instagram pribadinya @prof.zulys yang memiliki ribuan followers.

Dalam video edukasi "Behind The Science", Prof. Agustino Zulys mengurai klaim-klaim tersebut satu per satu secara ilmiah.

Distribusi Air ZamzamIlustrasi air zamzam Foto: (dok Saudi Press Agency)

Ia menjelaskan bahwa air zamzam memiliki karakteristik mineral yang menarik untuk diteliti. Meski demikian, klaim manfaat kesehatannya tetap harus didukung penelitian yang memadai.

Secara geologis, sumur zamzam berada di kawasan Masjidil Haram dengan kedalaman sekitar 30,5 meter. Berdasarkan penjelasan Saudi Geological Survey, sumber airnya berkaitan dengan resapan air hujan di kawasan Wadi Ibrahim.

Air hujan tersebut meresap ke dalam tanah dan melewati berbagai lapisan batuan sebelum masuk ke sistem air tanah yang memasok sumur zamzam.

"Penelitian menunjukkan bahwa air zamzam kaya akan mineral. Karena air tanah berinteraksi dengan batuan dalam perjalanannya terjadi proses pelarutan mineral. Sederhananya, air membawa sidik jari geologi. Itu mengapa air dari sumur berbeda bisa memiliki rasa hingga kandungan mineral yang berbeda," jelasnya.

Namun menurutnya, dosis yang menentukan, bukan sekadar ada atau tidaknya mineral, sehingga kandungan mineral yang tinggi tidak otomatis berarti lebih menyehatkan.

Soal klaim bebas bakteri, sebuah studi di tahun 2020 menguji tiga sampel air zamzam dengan metode kultur agar selama 48 jam pada suhu 30 derajat Celsius dan tidak menemukan pertumbuhan bakteri sehingga disebut 'patogen free'.

Namun, hasil tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh air zamzam selalu bebas mikroorganisme dalam kondisi apa pun.

Terdapat pula penelitian mengenai pengaruh air zamzam terhadap kolesterol dan asam urat.

Penelitian tersebut melibatkan 18 ekor tikus yang dibagi menjadi tiga kelompok. Setelah 90 hari, kelompok yang mengonsumsi air zamzam menunjukkan kadar asam urat, Kolesterol, dan trigliserida lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol.

Klaim satu tetes air zamzam bisa mengubah segalon air biasa secara kimiawi juga dibantah.

Saudi Geological Survey menyebutnya sebagai miskonsepsi, sebab mencampurkan air zamzam dengan udara lain hanya mengencerkan konsentrasi mineralnya, bukan melipatgandakannya.

Di luar klaim viral tersebut, kedudukan zamzam tetap istimewa bagi umat Islam karena sejarah dan hadisnya.

Namun, Prof. Agustino Zulys mengingatkan, keberkahan adalah konsep teologis yang tidak perlu dibuktikan melalui struktur molekul khusus.

"Iman yang kuat tidak takut kepada sains, dan sains yang jujur tidak perlu dipaksa untuk membuktikan iman," tutupnya.

(raf/sob)