Depok (ANTARA) - Salah satu cara cari duit di media sosial yang belakangan digandrungi netizen Indonesia adalah membuat konten menarik, unik dan kreatif.

Konten berfungsi sebagai jantung dalam giat media sosial. Konten juga menjadi pondasi yang kuat dalam monetisasi alias cuan di media sosial.

Meski telah diproduksi semenarik mungkin, konten tidak bisa berdiri sendiri dan langsung dapat cuan. Harus ada kontinuitas dan ekosistem yang mendukungnya.

Jessica Gautama, Chief Marketing Officer SCGI Agency berbagi insight seputar cara cari duit di media sosial. Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membuat dan monetisasi konten.

1. Relevance, Hook dan Value
Menurut Jessica, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan di awal pembuatan konten. Tiga hal tersebut adalah; relevance, hook dan value.

“Kita harus memahami dulu apa yang sedang dibicarakan, dirasakan atau menjadi point audiens. Setelah itu baru diterjemahkan menjadi hook yang kuat dan format yang sesuai dengan behavior di platform tersebut,” kata Jessica.

Meski harus mengikuti dan menangkap peluang, tapi jangan berhenti di tren. Konten yang kuat justru ketika creator punya sudut pandang dan karakter yang konsisten. Sehingga, audiens punya alasan untuk kembali.

2. Pilih Segmen/Audiens Potensial
Menentukan audiens tak hanya berdasarkan demografi seperti umur, gender atau lokasi. Yang lebih penting adalah memahami behavior, interest, needs dan community mereka.

“Misalnya, sama-sama perempuan usia 25–35 tahun bisa memiliki kebutuhan dan konsumsi konten yang sangat berbeda. Ada yang mencari career inspiration, parenting, beauty, wellness, atau entertainment,” ucap jebolan Nanyang Academy of Fine Arts Singapore ini.

Kamu bisa mulai dari siapa yang paling membutuhkan atau relate dengan value yang kita tawarkan. Pelajari juga bagaimana mereka berperilaku di platform digital seperti apa yang sudah mereka konsumsi dan kebiasaan lainnya.

Dari sana kamu bisa menemukan audience segment yang bukan hanya besar, tapi juga relevan dan berpotensi melakukan action.

3. Pesan yang Konsisten
Satu campaign sebaiknya memiliki satu core message atau big idea yang sama meski cara menyampaikannya harus mengikuti karakter masing-masing platform.

“Consistent message doesn’t mean identical content,” kata Jessica.

TikTok misalnya, bisa dengan konten yang lebih raw, entertaining dan conversation-driven.
Sementara Instagram lebih visual dan aspirational. Sedangkan platform lain seperti YouTube mungkin lebih cocok untuk edukasi atau storytelling yang lebih panjang.

Jadi, yang dijaga konsistensinya adalah pesan, positioning dan brand character, bukan format kontennya. Kesalahan yang sering terjadi adalah sekadar copy-paste satu konten ke semua platform. Padahal, setiap platform punya culture dan audience behavior yang berbeda.

4. Bangun Positioning dan Karakter
Kalau tujuannya monetisasi, jangan hanya mengejar follower. Mulai dengan membangun positioning, membentuk karakter dan proof of influence.

Brand sekarang tidak selalu mencari creator dengan follower terbesar. Mereka mencari creator yang punya audience jelas, engagement sehat, karakter kuat dan yang paling penting mampu membuat audiens percaya atau melakukan action.

“Jadi, dibanding menjadi creator yang membahas semuanya, lebih baik punya area atau point of view yang mudah dikenali. Tunjukkan kemampuan membuat branded content secara natural dan siapkan media kit yang berisi audience profile serta performance,” ujarnya.

Dan jangan hanya menunggu endorse. Monetisasi bisa datang dari berbagai pintu; brand partnership, affiliate, live/social commerce, UGC creation, sampai menjadi KOL atau creative partner untuk brand.

5. Optimalisasi Data dan Engagement
Data jangan hanya dipakai untuk membuat report, tapi untuk menentukan apa yang harus kita lakukan selanjutnya.

“Jangan berhenti mengekspor data hanya dari likes atau views. Lihat jauh lebih dalam. Bedah konten mana yang paling banyak menghasilkan watch time, shares, saves, comments, profile visits sampai conversion. Kemudian cari polanya,” katanya.

Lihat apakah audience lebih responsif terhadap edukasi, entertainment, storytelling, atau product demonstration. Selain itu, gali lebih dalam hook seperti apa yang membuat merekabertahan dan topik apa yang paling banyak memancing percakapan.

Dari situ kita membuat feedback loop: publish → measure → learn → optimize → repeat.“Buat saya, data bukan pengganti kreativitas.

Data membantu kita memahami kreativitas seperti apa yang paling relevan untuk audiens. Sehingga, keputusan konten berikutnya tidak hanya berdasarkan feeling,” tutup Jessica.

Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.