Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:11 WIB
Jakarta, VIVA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menjadi persoalan yang terus berulang, terutama di kawasan gambut saat musim kemarau. Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) Satyawan Pudyatmoko menyebut, perubahan kondisi gambut dari basah menjadi kering menjadi salah satu persoalan utama yang perlu ditangani untuk menekan risiko kebakaran.
Baca Juga
Satyawan menyampaikan hal tersebut setelah resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala BPGMN di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Dalam menjalankan tugasnya, ia mengatakan pengelolaan gambut akan dilakukan bersamaan dengan pemulihan kawasan yang telah terbakar maupun mengalami deforestasi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Gambut itu terbakar dari sifatnya basah menjadi kering, itu problem utama gambut. Saya dengan Pak Sriyanto akan membuat gambut menjadi lembab dan basah," ujar Satyawan.
Baca Juga
Menurut dia, salah satu faktor yang berkontribusi terhadap mengeringnya lahan gambut adalah kanal. Karena itu, pengelolaan kanal dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari upaya menjaga kelembapan gambut agar tidak mudah terbakar ketika kemarau ekstrem.
Satyawan mengatakan, pengelolaan gambut juga perlu memperhatikan aktivitas ekonomi masyarakat. Ia mendorong pengembangan komoditas yang ramah air agar pemanfaatan lahan tetap dapat berjalan tanpa memperbesar risiko kerusakan ekosistem gambut.
Baca Juga
Selain pengelolaan lahan, BPGMN akan memperkuat pendekatan berbasis ilmu pengetahuan untuk memetakan tingkat kekeringan dan risiko kebakaran. Menurut Satyawan, pemodelan diperlukan untuk memperkirakan kapan lahan gambut mulai mengering sehingga langkah pencegahan dapat disiapkan lebih awal.
"Jadi gambut ini kan butuh sains yang cukup canggih, di permodelan kapan kering dan resiko kebakaran harus dipetakan, di struktur ada kelompok ahli, dari berbagai bidang, vegetasi gambut dan lain-lain, kita mintai advice untuk masuk ke ekosistem perundangan di Indonesia," katanya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menambahkan, kelompok ahli dari berbagai bidang akan dilibatkan untuk memberikan masukan terkait pengelolaan gambut, termasuk aspek vegetasi. Masukan tersebut diharapkan dapat mendukung penerapan kebijakan yang sesuai dengan karakteristik ekosistem gambut.
Satyawan juga menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak terjadi tanpa adanya kondisi yang mendukung. Ketersediaan bahan bakar dalam kondisi kering dan adanya pemicu menjadi faktor yang memungkinkan kebakaran berlangsung.
Halaman Selanjutnya
"Karhutla terjadi kalau ada bahan bakar yang cukup kering dan pemicu," ujarnya.